Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial Dasar #. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial Dasar #. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Sosial, Budaya, dan Globalisasi


Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi sempit. Globalisasi juga bisa diartikan dengan suatu proses dimana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.
Dalam berbagai hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah tersebut sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. Berikut ini beberapa ciri-ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalosasi di dunia.
*      Perubahan dalam konstantin ruang dan waktu. Kemajuan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepat.
*      Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi  seperti World Trade Organization (WTO).
*      Peningkatan interaksi budaya melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olahraga internasional). Saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
*      Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional, dan lain-lain.
Globalisasi berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang dapat menerima adanya globalisasi, ada pula masyarakat yang sulit menerima atau bahkan menolak globalisasi. Generasi muda, masyarakat dengan status sosial yang lebih tinggi, dan masyarakat kota cenderung mudah menerima datangnya globalisasi. Sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, generasi tua yang memiliki kehidupan stagnan, dan masyarakat yang belum siap baik secara fisik maupun mental cenderung sulit menerima adanya globalisasi.
Unsur globalisasi yang mudah diterima oleh masyarakat adalah sebagai berikut.
*      Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
*      Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
*      Pendidikan formal di sekolah.
Sedangkan unsur globalisasi yang pada umumnya sukar diterima  masyarakat adalah sebagai berikut.
*      Teknologi yang rumit dan mahal.
*      Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
*      Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Modernisasi dan globalisasi membawa dampak positif ataupun negatif terhadap perubahan dalam berbagai bidang di suatu negara.
a.      Dampak positif globalisasi
*      Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan.
*      Mudah berkomunikasi.
*      Cepat dalam bepergian (mobilitas yang tinggi).
*      Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran.
*      Memacu untuk meningkatkan kualitas diri.
*      Mudah memenuhi kebutuhan.
b.      Dampak negatif globalisasi
*      Informasi menjadi tidak tersaring.
*      Perilaku konsumtif.
*      Membuat sikap menutup diri dan berpikiran sempit.
*      Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk.
*      Mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau asing.
Globalisasi juga berpengaruh dalam bidang sosial dan budaya dalam suatu negara. Globalisasi mengubah bentuk kehidupan keseharian kita secara mendasar sebagai berikut.
*      Meningkatnya individualisme
Sebelum adanya globalisasi, kesempatan individu untuk menentukan dirinya sendiri dibatasi oleh masyarakat, entah oleh tradisi maupun kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Namun, dalam era globalisasi sekarang ini, kesempatan individu untuk mengatur dan menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri sangat terbuka lebar. Saat ini, masyarakat sudah tidak begitu memperdulikan kehidupan orang lain seperti mereka memperdulikan kehidupan orang saat globalisasi belum ada. Mereka lebih memilih mengurus kehidupan masing-masing daripada ikut campur dalam kehidupan orang lain.
*      Pola kerja
Pekerjaan-pekerjaan mengarah pada era perekonomian yang berbasis pengetahuan. Orang-orang sudah tidak mengandalkan kerja penuh di kantor. Akibat dari kemajuan teknologi, mereka bisa mengerjakan pekerjaan kantor mereka dimanapun dan kapanpun. Mereka  bisa saja menyelesaikan pekerjaan mereka di rumah lalu mengirimkannya melalui e-mail. Saat ini, dunia kerja tidak hanya untuk laki-laki, perempuan juga telah masuk dunia kerja.
*      Kebudayaan Pop
Citra, gagasan, dan gaya hidup baru menyebar dengan begitu cepat ke seluruh pelosok dunia, lebih cepat daripada sebelumnya. Semua itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Globalisasi juga dapat memberikan pengaruh dalam bidang sosial dan budaya dalam suatu negara. Berikut adalah akibat dari pengaruh globalisasi dalam bidang sosial dan budaya.
*      Disorientasi, dislokasi atau krisis sosial dan budaya dalam masyarakat.
*      Semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme dan hedonisme.
*      Erosi budaya suatu negara.
*      Lenyapnya identitas budaya nasional dan lokal.
*      Kehilangan arah sebagai bangsa yang memiliki jati diri.
*      Hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme.
*      Cenderung pragmatis dan maunya serba instan.

PENGARUH GLOBALISASI SOSIAL BUDAYA TERHADAP NEGARA INDONESIA
Globalisasi sosial dan budaya sudah memasuki negara Indonesia sejak lama. Globalisasi ini cenderung lebih diterima oleh para remaja, masyarakat dengan status sosial yang lebih tinggi, dan masyarakat yang hidup di kota. Namun, tidak menutup kemungkinan, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil juga bisa menerima adanya globalisasi. Hal tersebut tidak terlepas dari peran kemajuan teknologi.
Saat ini, di era globalisasi, semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, semua informasi yang berasal dari daerah atau bahkan negara lain bisa masuk ke dalam kehidupan kita dengan begitu cepat. Sebagai contoh, pada tanggal 17 Januari 2013 di Ibukota Jakarta sedang terjadi banjir. Karena kemajuan ilmu pengetahuaun dan teknologi, masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, dan kota-kota lainnya bisa mengetahui informasi bencana tersebut pada hari itu juga. Bahkan, masyarakat yang tinggal di negara-negara lain juga dapat mengetahui informasi tentang kejadian tersebut tanpa harus datang dan menyaksikannya secara langsung.
Selain memabawa dampak positif terhadap dunia, globalisasi juga membawa dampak negatif. Walaupun sebenarnya dampak negatif itu telah dirasakan oleh masyarakat, namun mereka tidak menyadari bahwa globalisasi telah menjajah mereka. Sebagai contoh, akibat dari adanya globalisasi dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat, salah satunya masyarakat Indonesia, mulai mempelajari dan mengikuti budaya-budaya negara asing yang menurut mereka adalah budaya yang unik dan bagus. Bahkan mereka bisa mempelajarinya tanpa harus datang langsung dan mempelajarinya secara langsung di negara yang bersangkutan.
Kebudayaan Indonesia saat ini sudah mulai tersingkirkan dengan adanya kebudayaan asing yang lebih mendunia. Padahal jika lebih diperhatikan lebih diteliti lagi, kebudayaan Indonesia tidak kalah bagus dan uniknya bila dibandingkan dengan kebudayaan lain. Dan sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya para remajanya, saat ini lebih tertarik pada budaya asing daripada budaya negeri sendiri.
Tidak pernahkah kita bayangkan betapa bahagianya masyarakat negara lain saat mereka mengetahui bahwa budaya mereka sedang kita pelajari sedangkan kita sendiri buta tentang budaya negeri sendiri? Tidak sadarkah kita kalau kita sedang dijajah oleh bangsa lain saat kita mempelajari budaya mereka dan mulai meninggalkan budaya kita sendiri?
Kebudayaan bukan hanya mengenai suatu tarian ataupun alat musik yang kuno dan antik serta situs sejarahnya. Kebudayaan bisa juga mengenai bahasa dari negara itu sendiri, perilaku dari bangsanya, dan segala sesuatunya yang bisa mengidentifikasi tentang negara tersebut.
Bicara mengenai bahasanya, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bukannya memperbaiki cara mereka berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka malah asyik sibuk kursus kesana kemari untuk mempelajari bahasa asing. Tidak bisa disangkal, sebagai makhluk sosial manusia harus mempelajari bahasa dan budaya asing agar bisa berkomunikasi dan beradaptasi dengan masyarakat dari negara lain.
Perilaku. Perilaku masyarakat Indonesia saat ini bisa dibilang sudah banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya asing. Individualisme sudah hampir merata dalam pribadi masyarakat Indonesia. Sekarang ini, gotong royong yang merupakan asli dari budaya negara kita sudah mulai jarang dilakukan, terutama di kota-kota besar. Ketika ada orang lain yang jatuh dari motor misalnya. Mereka yang melihat kejadian tersebut hanya menonton saja. Jangankan bergerak mendekat, bergemingpun tidak.
Jika kita pergi ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, dan sebagainya, kita akan lebih sering melihat perempuan-perempuan dengan celana pendek dan rok mininya daripada celana atau rok panjang yang menutup kaki jenjang mereka. Padahal perilaku tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan asli negeri kita.
Ketika kita sibuk dengan budaya dan pernak-pernik negara lain, ada sebuah negara yang mengakui salah satu kebudayaan milik kita sebagai kebudayaan negara mereka, kita barulah sadar bahwa kita juga mempunyai kebudayaan yang ternyata disukai oleh bangsa asing sampai-sampai diperebutkan oleh mereka, yang diam-diam juga mempelajari budaya negeri kita.
Sebagai manusia yang mempunyai rasa ingin tahu dan penasaran yang tinggi, memang sudah sewajarnya bila kita ingin tahu dan ingin mempelajari tentang budaya negara asing. Namun, jangan sampai karena keingintahuan kita, kita malah dijajah oleh bangsa lain tanpa kita sadari. Tidak ada salahnya bila kita mulai mempelajari kebudayaan dengan mempelajari kebudayaan kita terlebih dahulu. Dan ambillah nilai-nilai positif dari kebudayaan-kebudayaan asing yang kita pelajari yang sesuai dengan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.


Referensi:

Minggu, 18 November 2012

Kendalikan Emosimu sebelum Emosi Mengendalikanmu

Sebenarnya apa sih emosi itu? Emosi itu adalah amarah, kekesalan, kejengkelan terhadap seseorang atau sesuatu. Kejengkelan atau kekesalan yang sudah dipendam terlalu lama bisa menyebabkan timbulnya emosi. Biasanya orang yang sedang emosi akan menunjukkan beberapa sikap atau perilaku sebagai berikut.
·         membentak atau berteriak kepada lawan bicara
·         memukul lawan bicara
·         berkata kasar pada lawan bicara
·         membanting atau memukul benda-benda disekitarnya
·         tidak menanggapi lawan bicara, dan sebagainya.
Biasanya orang yang emosi tidak mau orang lain tahu bahwa dirinya adalah orang yang lemah. Dan hal-hal diatas mereka lakukan untuk menutupi kekurangan ataupun kesalahannya.
Emosi merupakan pencerminan dari sikap egois kita. Pernah liat orang yang sedang emosi kan? Jelas sekali terlihat betapa egoisnya seseorang ketika emosi. Saat emosi, kita akan merasa diri kitalah yang paling benar dan tidak peduli pada pendapat orang lain. Saat emosi, kita tidak akan mempedulikan bagaimana perasaan orang lain. Saat emosi kita tidak akan peduli terhadap lingkungan disekitar kita. Bahkan kita tidak akan menyadari kata-kata yang telah kita ucapkan, yang bisa jadi kata-kata tersebut menyakiti perasaan lawan bicara kita. Sebaiknya ketika emosi kita harus bisa mengendalikan dan memikirkan kembali apa yang akan kita ucapkan. Karena jika kita sudah mengucapkan kata-kata kasar dan menyakiti perasaan lawan bicara kita, kata-kata kita akan terus diingat oleh lawan bicara kita meskipun kata-kata tersebut telah kita ucapkan berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Sadarkah kita ketika emosi pikiran kita menjadi tidak karuan? Ya, emosi menjadikan kita tidak bisa berpikir jernih dalam menghadapi masalah. Itu sebabnya sering terjadi perkelahian yang diawali dengan emosi yang tidak bisa dikendalikan. Walaupun sebenarnya masalah yang kita hadapi tersebut sangatlah sederhana, namun apabila emosi telah ikut campur dalam masalah kecil yang kita hadapi dan kita tidak bisa mengendalikan emosi kita, masalah tersebut akan menjadi masalah besar yang tidak ada gunanya. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa membiasakan diri untuk mengendalikan emosi dan berpikir jernih dalam menghadapi setiap masalah dan tidak mempermasalahkan hal-hal yang sepele.
Sebenarnya saat kita emosi, semua otot-otot yang ada di tubuh kita ikut menegang. Oleh karena itu setelah kita emosi kita akan merasa lelah, gerah, dan sebagainya. Emosi sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan kita. Emosi menyebabkan darah yang ada di dalam tubuh kita mengalir ke atas, sehingga bisa menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi. Bukan hanya penyakit tekanan darah tinggi saja, emosi juga bisa menyebabkan berbagai macam penyakit dalam lainnya, seperti stress, kolesterol, stroke, penyakit jantung, dan sebagainya.
Emosi tidak timbul dengan sendirinya atau tanpa adanya alasan yang jelas, kecuali untuk orang dengan sifat tempramen, karena emosi bukanlah sesuatu yang bersifat spontanitas. Ada beberapa orang yang lebih memilih memikirkan untuk perlu emosi apa tidak sebelum akhirnya emosi. Ada juga yang tanpa pikir panjang langsung menyemprot lawan bicara dengan berteriak dan membentak-bentaknya. Emosi itu adalah pilihan. Emosi akan menunjukkan kepada khalayak siapa kita dan seperti apa kita sebenarnya. Walaupun kita berusaha menjaga image di depan orang lain dengan bersikap kalem dan pendiam, namun bila kita menghadapi masalah dengan emosi tak bisa dipungkiri lagi nama baik kita pasti langsung tercoreng.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan timbulnya emosi adalah sebagai berikut.
·         Faktor usia
Usia sangatlah mempengaruhi emosional seseorang. Semakin tua usia seseorang, semakin bijaksanalah orang tersebut. Karena orang yang lebih tua biasanya lebih banyak pengalaman dalam menghadapi masalah dan banyak belajar dari masalah-masalah tersebut. Oleh sebab itu, banyak perkelahian atau sejenisnya yang dilakukan oleh anak-anak muda. Jarang kan kita melihat ada tawuran yang didominasi oleh sekelompok orang dengan usia lebih dari 50 tahun? Hal tersebut terjadi karena anak-anak muda bersifat lebih sensitf dan lebih mengutamakan emosi mereka daripada membicarakannya secara kekeluargaan.
·         Kedewasaan
Usia bukanlah pengukur tingkat kedewasaan seseorang. Walaupun masih berusia belasan tahun, jika kita sudah menghadapi masalah dengan bijaksana dan tidak mengutamakan emosi, apa salahnya? Lebih cepat bisa mengendalikan emosi kan juga lebih baik.
·         Jenis kelamin
Jenis kelamin (gender) juga mempengaruhi timbulnya emosi. Biasanya hal ini terjadi pada kaum perempuan. Karena perempuan lebih perasa dan selalu melibatkan perasaan dalam setiap masalah. Berbeda dengan laki-laki yang selalu menggunakan logika bila menghadapi masalah. Namun, banyak juga laki-laki yang tidak menggunakan logikanya dalam menghadapi masalah dan lebih mementingkan emosinya.
·         Tempramen
Tempramen adalah suasana hati yang menjadi ciri khas kehidupan emosional seseorang. Memang ada beberapa orang yang memiliki sifat tempramen seperti ini. Selalu emosi dalam menghadapi setiap masalah. Bahkan terkadang tiba-tiba emosi tanpa ada yang tahu apa alasannya. Biasanya orang tempramen sangat tergantung dengan suasana hatinya dan emosi akan timbul bila suasana hatinya sedang tidak baik.
·         Kesabaran.
Setiap manusia pasti memiliki kesabaran di dalam dirinya. Yang menjadi masalah disini adalah seberapa lama kesabaran tersebut bisa bertahan dan menghindari timbulnya emosi yang bisa merugikan kedua belah pihak. Semakin lama kesabaran tersebut bertahan, semakin sedikit emosi yang timbul di muka bumi. Contohnya saja saat kita menunggu koneksi internet yang sedang bermasalah. Jika orang yang tidak mempunyai kesabaran lebih, maka orang tersebut bisa saja menghadapi hal sepele tadi dengan marah-marah, mengumpat, dan sebagainya. Padahal sebenarnya hal tersebut sangatlah tidak perlu dilakukan karena sangat membuang-buang tenaga dan energi kita.
·         Ketidakcocokan pemikiran antara kita dan orang lain
Berbeda pendapat dengan orang lain adalah hal biasa yang sering terjadi dalam kehidupan. Hal inilah yang bisa menimbulkan terjadinya emosi. Saat kita berbeda pendapat dengan orang lain dan kita merasa pendapat kitalah yang paling benar, kita akan langsung tersulut emosi. Padahal belum tentu pendapat kitalah yang terbaik. Ada baiknya ada pihak ketiga yang bisa mengambil keputusan untuk mana yang lebih baik. Karena biasanya orang yang tidak terlibat dan tidak tahu menahu tentang perdebatan tersebut mempunyai sudut pandang yang lebih umum yang tidak merugikan pihak manapun.
·         Berpikiran negatif
Berpikiran negatif sangatlah dilarang oleh agama dan kita diharuskan untuk selalu berpikiran positif tentang orang lain. Karena ternyata berpikiran negatif juga bisa menimbulkan emosi. Ternyata emosi juga bisa timbul karena bagaimana pendapat kita tentang orang lain. Jika kita sudah terlanjur berpikiran negatif tentang orang lain, apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh orang tersebut bisa menyulut emosi kita. Jika kita selalu berpikiran negatif pada orang lain dan tidak pernah melihat sisi positifnya, kita akan selalu merasa emosi dengan apa saja yang dia lakukan. Bahkan dengan melihat wajahnya saja kita bisa emosi bila terus menerus berpikiran negatif tentang orang lain.
·         Lapar
Emosi juga bisa timbul saat seseorang sedang lapar. Itu sebabnya ada pepatah mengatakan jangan pernah berdebat dengan orang yang sedang lapar. Karena ternyata saat kita sedang lapar, hawa negatif terutama emosi lebih mudah masuk ke dalam diri kita.
·         dan masih banyak lagi
Sebagai manusia yang kurang dari sempurna, kita pasti mempunyai emosi dengan kadarnya masing-masing. Ada yang lebih cepat emosi, ada juga yang lebih sabar dan lebih bisa mengontrol emosinya. Setidaknya kita harus bisa menimimalisir emosi kita bila kita tidak bisa menghilangkan emosi kita demi terjaganya perdamaian dunia. Karena emosi tidak bisa hilang begitu saja, tentu ada proses-prosesnya. Semakin matang dan dewasa pemikiran kita, maka emosi yang ada di dalam diri kita juga akan dengan semakin mudah dikendalikan. Ingatlah bahwa setiap perdebatan, pertengkaran, perkelahian, dan sebagainya yang pernah terjadi dalam kehidupan kita pasti diawali tidak jauh dari emosi.
Untuk membina kehidupan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar, kita harus bisa mengendalikan emosi kita karena emosi sangatlah merugikan untuk diri sendiri maupun orang lain. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan emosi adalah sebagai berikut.
·         Sesaat sebelum emosimu terpancing, usahakan untuk diam sejenak. Hindari mengatakan kata-kata kasar yang bisa menyakiti lawan bicara karena efek sampingnya bisa melekat sampai puluhan tahun ke depan. Mungkin kita akan secara tidak sengaja dan refleks mengatakan kata-kata tersebut namun ada baiknya kita memikirkannya terlebih dulu sebelum mengucapkannya.
·         Tarik napas dalam-dalam dan tahan selama sepuluh detik. Hal ini efektif untuk mencegah timbulnya emosi yang ada di dalam diri kita. Karena saat emosi, darah yang ada di dalam diri kita mengalir naik. Namun, ketika kita menarik napas tadi, oksigen akan masuk ke dalam ke ruang otak kita dan membuat kita menjadi lebih rileks dan tenang.
·         Ingatlah bahwa kita hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan apapun baik disengaja maupun tidak disengaja. Bayangkan bila kita ada di posisinya. Kita pasti tidak mau tiba-tiba dimarahi orang lain bila kesalahan yang kita lakukan merupakan kesalahan yang tidak disengaja. Dan cobalah untuk bisa memaafkan orang lain. Karena dengan saling memaafkan emosi yang ada di dalam diri kita bisa dengan mudah mereda.
·         Pikirkan semua hal-hal positif yang pernah dilakukan oleh orang lain pada kita. Karena semua yang terjadi dalam hidup kita berasal dari pikiran-pikiran kita. Bila kita berpikiran positif pada orang lain maka kita akan bisa merasakan kebaikan-kebaikan orang lain dan kita tidak akan dengan mudah emosi kepada orang lain.
·         Pikirkan semua hal yang akan terjadi jika kita emosi di depan umum. Nama baik yang telah kita bangun selama bertahun-tahun akan tercoreng dengan emosi yang hanya berlangsung beberapa menit saja. Jangan biarkan emosi menguasai dirimu dan jangan terus menerus larut dalam emosi karena hal itu sangatlah tidak sedap bila dipandang mata dan sangatlah tidak baik untuk kesehatan kita.
·         Jangan jadikan emosi sebagai prioritas pertama dalam menghadapi masalah kita. Jangan menganggap bahwa emosi bisa menyelesaikan masalah-masalah kita. Salah besar. Masalah akan terselesaikan dengan baik bila kita menyelesaikan dengan baik-baik juga.
Jadi, para sahabat-sahabatku sekalian, marilah kita kendalikan emosi kita betapapun susahnya itu. Karena emosi sama sekali tidak ada manfaatnya, malah cenderung mengakibatkan banyak kerugian. Untuk diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya. Tubuh kita menjadi rentan terhadap berbagai penyakit, orang lain menjauhi kita dan tidak sudi untuk berteman dengan kita jika kita masih memelihara emosi di dalam diri kita. Bahkan orang yang tidak kenal dengan kita akan menjudge kita sebagai pribadi yang buruk saat melihat kita emosi. Gak mau kan orang tiba-tiba orang menjudge kita sebagai orang yang emosional padahal kita tidak kenal dengan orang tersebut.
Orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya termasuk dalam orang-orang yang lemah. Jika orang sudah mengutamakan emosi, pasti akan terjadi keributan dimana-mana. Tidak akan ada perdamaian di muka bumi ini. Walaupun emosi sangat susah untuk dikendalikan, tapi apa salahnya mencoba mengendalikannya? Kalau sudah terbiasa gak akan susah kok. Biasakan untuk terbiasa tidak mengutamakan emosi dalam menghadapi setiap masalah.

Referensi: