Minggu, 19 Januari 2014

Vihara Dewi Kwan Im


Pemandangan Vihara Dewi Kwan Im atau Vihara Buddhayana atau Kelenteng Burong Mandi

Saat ini kita sedang berada di sebuah tempat bersejarah di Pulau Belitung, yaitu Vihara Dewi Kwan Im. Vihara Dewi Kwan Im ini terletak di Desa Burung Mandi, Kecamatan Kampit, Belitung Timur.


Anak tangga untuk menuju ke Vihara Dewi Kwan Im.
Pada umumnya, bentuk vihara yang juga dikenal dengan Vihara Buddhayana ini tidak berbeda jauh dengan vihara-vihara lain, namun Vihara Dewi Kwan Im merupakan vihara tertua di Belitung. Vihara ini dibangun sejak tahun 1747, sehingga hingga saat ini vihara ini telah berumur 266 tahun.

Vihara yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Kelenteng Burong Mandi ini merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung dan merupakan bukti sejarah adanya peradaban Budha di Pulau Belitung.


Salah satu sudut dari Vihara Buddhayana yang merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung.
Di dalam vihara ini terdapat kolam dimana kita diperbolehkan melempar koin sambil mengucapkan permohonan kita. Kolam ini disebut dengan Kolam Tujuh Bidadari dimana kita dapat meminum airnya karena air di dalam kolam ini berasal dari air sumur yang masih alami, jernih, bersih, dan menyegarkan. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, di dalam sumurnya terdapat seekor naga yang menjaga sumur dan kejernihan serta kekhasiatan airnya.

Tidak jauh dari vihara ini terdapat aliran sungai yang menambah kesejukan dan harmoni di dalam vihara ini. Ada sebuah mitos yang beredar di masyarakt sekitar vihara bahwa air sungai tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menjadikan awet muda, bahkan meminta sesuatu yang diinginkan.

Karena Vihara Buddhayana ini dibangun diatas bukit kecil, dari atas vihara ini kita dapat menikmati pemandangan Pantai Burung Mandi yang letaknya tidak jauh dari vihara. Tak jauh dari vihara ini juga terdapat Pantai Bukit Batu.



Wisata ke Taman Sari - Yogyakarta

Taman Sari tampak depan.


Beginilah sejarah singkat Taman Sari:

Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa setelah Perjanjian Gayatri. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis, seorang arsitek berkebangsaan Portugis, dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter di selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

Begitulah sejarah singkat Taman Sari. Sekarang, let's go to my story! This is my story.

Gapura Panggung di sisi Timur Taman Sari.

Konon katanya, Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana dari atas Gapura Panggung. Bangunan-bangunan di sampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka. Dari Gapura Panggung, kami masuk ke area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa kami. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika kami memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen yang menghiasi periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak di samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk dan kamar pribadi Sultan, di menara yang terdiri dari tiga tingkat ini ada tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun yang melihatnya. Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari dari kolam di bawahnya dan seluruh area Taman Sari terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan dari atas sini, pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatannya dan bunga-bunga yang semerbak mewangi.

Gapura Agung di sisi Barat Taman Sari.

Selepas menikmati pemandangan dari atas menara, kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap dan hening langsung terasa ketika kami masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi dan strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.

Selanjutnya kami akan menuju Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting. Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar dari Tajug, kami melihat bekas dari Pulo Kenongo yang dulunya banyak ditumbuhi bunga kenanga yang menyedapkan Taman Sari. Kami pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauh dari kita terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Sesampainya di tengah masjid yang berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung yang terdengar dari permukiman penduduk di area Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset yang mempesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Puas dengan kesegaran air dari Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan yang indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air yang apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China menjadi nilai yang membuat Taman Sari tak akan terlupakan.

Demi menjaga keaslian dari tempat wisata Taman Sari ini, pengelola Taman Sari membiarkan bangunan-bangunannya apa adanya tanpa ada perubahan warna pada dinding-dindingnya. Pengunjung pun dilarang mandi atau memasuki area kolam yang terisi penuh dengan air jernih. Kami hanya diijinkan sekadar melihat dan mengambil gambar di area tersebut.

Begitulah cerita saya mengenai Taman Sari. Untuk Anda yang berminat mengunjungi Taman Sari, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5000 untuk wisatawan domestik dan Rp 10000 untuk wisatawan mancanegara. Happy Holiday!