Menurut Daoed Joesoef dalam tulisannya yang berjudul “”Bapak Bangsa””, suatu negara besar tidak mungkin diurus secara amatiran. Ada alam ide dan ada pula alam praktis. Contoh alam ide adalah adalah universitas. Universitas menjadi contoh alam ide karena manusia berusaha untuk diajak mencari ide-ide kreatif untuk diterapkan di dalam masyarakat. Dalam universitas, mahasiswa sudah tidak lagi diberi materi secara penuh oleh dosen, tapi dosen hanya memberikan materi secara garis besarnya dan mahasiswa yang mencari detail-detailnya. Untuk itu, diperlukan mahasiswa yang kreatif agar mahasiswa tersebut dapat mengikuti kehendak dosen. Contoh alam praktis biasanya berupa komunitas bisnis. Dalam komunitas bisnis, seseorang sudah tidak lagi mencari ide melainkan menerapkannya dalam usaha bisnisnya. Namun, menurut Daoed, kedua alam ide tersebut tidak pantas diterapkan oleh pemerintah. Pemerintah tidak pantas menjadi salah satu dari kedua penampilan alam ide maupun alam praktis. Ide, terutama ide politik, mempunyai konsekuensi dan kontemplasi ide adalah suatu usaha yang betul-betul praktis.
Sebagian orang berpendapat bahwa ide merupakan penyuluh dunia, baik hidup maupun kehidupan, dan sebagian orang yang lain berpendapat bahwa ide sekadar refleksi dari keadaan sesaat masyarakat. Tapi, sebenarnya ide merupakan unsur budaya dan budaya merupakan suatu fakta human yang tidak terpisahkan dari manusianya. Maka dapat disimpulkan bahwa ide adalah bagian dari diri manusia dan tidak ada manusia yang hidup tanpa ide. Setiap manusia memiliki ide dan tidak ada budaya yang tidak mempertanyakan ide.
Sebagai manusia yang akan memimpin manusia-manusia lainnya, sebagian caleg dan capres bermaksud mengadakan perubahan dalam pembangunan ekonomi. Dan berdasarkan pokok-pokok uraian mereka, perubahan yang dimaksud disini adalah mengubah angka pertumbuhan menjadi di atas 5 persen sambil meningkatkan pemerataan. Tapi, cara memicu pertumbuhan masih sama seperti dulu, yaitu melalui konsep pembangunan ekonomi-teknokratis yang sejalan dengan dengan para pemodal internasional, Bank Dunia dan IMF. Sehinggan tidak dapat dipungkiri bahwa kitalah, masyarakat biasa yang menjadi imbasnya. Kehancuran ekologis, polusi, penggundulan hutan dan rayahan sumber daya alam yang terjadi dimana-mana dan dilakukan oleh pebisnis asing. Memang GDP yang menjadi ukuran pertumbuhan mengalami kenaikan, tapi penduduk lokal hanya menjadi “penonton” dan kita sebagai bangsa menjadi debitor besar di pasar modal internasional. Akibatnya, anak cucu kita yang menderita. Bahkan satu detik setelah mereka dilahirkan, mereka telah ikut menanggung hutang yang ditinggalkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa.
Oleh sebab itu, sekaranglah bukanlah saatnya untuk mempertanyakan tentang sistem produktivitas dan efisiensi, melainkan cara/jalan kinerja sistem yang akan menetapkan pertimbangan aksinya sendiri, menentukan alamnya sendiri, independen, dan lepas sama sekali dari kebutuhan rakyat yang hidup dalam alam itu karena ketidaktahuannya. Jadi, dengan “perubahan” di bidang pembangunan ini, di tengah-tengah maraknya kerusakn alam, para caleg dan capres seharusnya menanggapi maksud baiknya sebagai “etika masa depan”, etika yang harus dihayati sekarang untuk dan demi masa depan. Etika inilah yang menjadi pemandu jalannya pembangunan nasional, bukan logika ekonomika pure and simple.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar