Minggu, 28 April 2013

Karakteristik Wirausaha



Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankankegiatan usahanya atau bisnisnya. Seorang wirausaha bebas merancang, menentukan, mengelola dan mengendalikan semua usahanya. Seseorang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dari waktu ke waktu, seorang wirausaha selalu meningkatkan usahanya. Ia selalu berkreasi dan berinovasi tanpa henti karena dengan berkreasi dan berinovasilah semua peluang dapat diperolehnya.
Pada hakekatnya, semua orang memiliki jiwa seorang wirausaha, yang artinya semua orang bisa menjadi wirausaha. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menjadi wirausaha yang dapat dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi, faktor lingkungan, dan sebagainya. Faktor ekonomi yang dapat menyebabkan seseorang tidak bisa menjadi seorang wirausaha dapat berupa ketidakadaannya dana untuk membangun sebuah usaha sehingga menghambat orang tersebut tidak berwirausaha. Faktor lingkungan yang menyebabkan seseorang tidak bisa menjadi seorang wirausaha adalah karena masyarakat yang tidak mendukung berjalannya sebuah usaha yang dimiliki oleh orang tersebut. Faktor lain yang dapat menyebabkan orang tidak bisa menjadi wirausaha adalah faktor dari dalam diri orang tersebut, yang dapat berupa kurangnya minat atau keberanian dari dalam diri seseorang untuk menjadi seorang wirausaha. Karena untuk menjadi seorang wirausaha, kita harus siap untuk gagal. Dan hal tersebutlah yang jarang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya.
Keengganan masyarakat untuk mendirikan sebuah usaha menjadikan mereka ketergantungan terhadap orang lain. Mereka lebih menyukai bekerja pada orang lain dan dibayar oleh orang lain daripada bekerja untuk diri sendiri dan mempekerjakan orang lain. Padahal, negara-negara berkembang seperti negara Indonesia sangat membutuhkan orang-orang yang mempunyai jiwa wirausaha untuk mengurangi masalah terbesar di Indonesia, yaitu pengangguran.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri atau karakteristik seorang wirausaha yang jarang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
1.      Memiliki Rasa Percaya Diri
Entah karena takut salah atau karena hal lain, masyarakat Indonesia masa kini menjadi tidak memiliki kepercayaan diri. Hal tersebut terbukti saat mereka duduk dibangku pendidikan. Saat ditanya oleh guru atau dosen, jarang diantara mereka yang berinisiatif untuk mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan sang guru. Bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih ditunjuk daripada mengangkat tangan mereka.

2.      Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Maksudnya adalah seorang wirausaha harus mempunyai sikap tanggung jawab pada tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Ia juga harus bertanggung jawab pada hasil dari tugas yang dibebankannya. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia sangat sedikit yang memiliki sikap ini. Sebagian dari mereka menganggap enteng tugas-tugas yang dibebankan padanya. Misalnya saja, bila seorang mahasiswa diberi tugas yang akan dikumpulkan sampai hari Senin, ia akan mengumpulkan tugasnya pada hari Minggu atau bahkan hari Senin.

3.      Berani Mengambil Resiko
Sebagai wirausaha yang baru, seseorang haruslah berani mengambil resiko dan  menghadapi resiko apapun terhadap langkah yang telah diambilnya.  Seseorang pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah memulai sesuatu jika belum pernah mengalami kegagalan.
Richard Cantillon adalah orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke-18. Ia mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung resiko. Dalam mengambil tindakan, wirausaha hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaan-nya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil resiko yang moderat, yang artinya resiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi resiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran kegiatannya.
Kemauan dan kemampuan untuk mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil resiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, ‘seorang wirausaha yang berani menanggung resiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan menang dengan cara yang baik. Wirausaha kurang menyukai resiko yang terlalu rendah. Keberanian untuk menanggung resiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan resiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis.Wirausaha menghindari situasi resiko yang rendah karena dianggap tidak ada tantangannya, dan menghindari situasi resiko yang tinggi karena ingin berhasil.

4.      Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Kepemimpinan sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha untuk memimpin anak-anak buahnya atau pegawainya. Seseorang tidak akan bisa menjadi seorang wirausaha bila ia tidak bisa memimpin, baik memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain.
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya lebih cepat, lebih dahulu dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk-produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu, perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan. Seorang wirausaha juga harus memiliki taktik mediator dan negosiator daripada diktator.

5.      Keorisinilan
Keorisinilan atau keaslian maksudnya bahwa orang yang ingin menjadi wirausaha mempunyai ide-ide kreatif yang asli dan murni dari dirinya, bukan dari orang lain atau hasil dari plagiarism. Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini tak mau berfikir dan mengemukakan pendapatnya kepada orang lain. Dan karena hal tersebut, kebanyakan masyarakat saat ini lebih menyukai menjiplak pendapat orang lain dan yang lebih parahnya lagi, mereka bisa mengatasnamakan jiplakannya tersebut sebagai hasil karyanya.

6.      Berorientasi ke Masa Depan
Seorang wirausaha harus mempunyai pandangan tentang masa depannya dan sangat bertekad untuk meraih kesuksesan di masa depan. Seorang wirausaha haruslah bisa memprediksi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang sangat dibutuhkan oleh mangsa pasarnya di kemudian hari, tidak stuck hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
Seorang wirausaha hendaknya harus mampu menatap masa depan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya adalah pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda dengan yang sudah ada. Walaupun dengan resiko yang mungkin dapat terjadi, seorang yang perspektif harus tetap tabah dan tekun dalam mencari peluang tantangan demi pembaharuan di masa depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada. Karena itu, ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.

7.      Jujur dan Tekun
‘Kejujuran dan ketekunan merupakan kunci kesuksesan,’ begitulah pepatah mengatakan. Ternyata untuk menjadi seorang wirausaha juga dibutuhkan sikap jujur dan tekun. Jujur terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pegawai-pegawainya. Tekun dalam mencari ide-ide baru yang lebih kreatif dari ide-ide yang sudah ada dan tekun dalam merintis usahanya yang baru akan mulai berkembang. Jika seorang wirausaha tidak jujur dan tidak tekun, bisa dipastikan wirausaha tersebut tidak akan berhasil dalam usahanya.

8.      Memiliki Motif Berprestasi Tinggi
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat dalam berwirausaha karena adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede Anggan Suhanda, motif berprestasi adalah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
2.      Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan atau kegagalan.
3.      Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4.      Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
5.      Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang. Jika tugas yang diemban seorang wirausaha dirasa sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.

9.      Memiliki Kreativitas Tinggi
Menurut Teodore Levite, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir tentang hal-hal baru dan berbeda. Oleh karena itu, menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir tentang sesuatu yang lama dengan cara-cara yang baru. Menurut Zimmerer dalam bukunya yang ditulis oleh Suryana (2003:24) dengan judul bukunya ‘Entrepreneurship and The New Venture Formation’, mengungkapkan bahwa ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang telah lama dan berfikir tentang sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu, kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada. Rahasia kewirausahaan dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi setiap hari.

10.  Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, wirausaha juga tidak sesulit yang dibayangkan oleh kabanyakan orang, karena walau bagaimanapun setiap orang sedang dalam proses belajar berwirausaha. Setiap wirausaha harus selalu berkreasi dan berinovasi agar usahanya tetap berkembang meski menjamurnya saingan. Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah untuk semua orang. Setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai manusia. Hal ini merupakan semacam ‘intuisi’ yang mendorong manusia normal untuk bekerja dan berusaha. ‘Intuisi’ ini berkaitan dengan salah satu potensi kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif yang dapat digunakan untuk berkreasi dan berinovasi.

11.  Selalu Memiliki Komitmen dalam Pekerjaan, Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha yang digelutinya. Dalam menjalankan usahanya tersebut, seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang menggebu-gebu dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan usahanya. Ia tidak pernah setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, selalu bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh terhadap pekerjaan yang digelutinya, wirausaha sehebat apapun pasti akan menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang wirausaha untuk memiliki komitmen terhadap usaha dan pekerjaannya.

12.  Mandiri atau Tidak Ketergantungan pada Orang Lain
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif dalam mengembangkan ide dan pikirannya terutama dalam menciptakan peluang usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain. Seorang wirausaha dituntut untuk selalu menciptakan hal baru dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada disekitarnya, mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan konsumen. Oleh karena itu, seorang wirausaha hendaknya mandiri dan tidak bergantung pada orang lain agar ia dapat lebih berkreasi dan berinovasi dengan kemampuannya.

13.  Selalu Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu juga menampung wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/masyarakat.

14.  Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk memanajerial atau mengurus usaha yang sedang digelutinya. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha, memvisualisasikan usaha, mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuanya itu adalah merupakan kemampuan manajerial yang wajib dimiliki dari seorang wirausaha. Tanpa itu semua, seorang wirausaha tidak akan mendapat keberhasilan, melainkan kegagalan.

Selain ciri-ciri, seorang wirausaha juga menunjukkan sifat-sifat yang selalu ditunjukkan dalam kehidupan sehari-harinya adalah sebagai berikut.
1.      Disiplin
Dalam melakukan kegiatannya, seorang wirausaha harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausaha terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja, dan sebagainya. Ketepatan terhadap waktu dapat dibina dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sifat sering menunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan adalah kendala yang dapat menghambat seorang wirausaha meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausaha akan komitmen tersebut. Seorang wirausaha harus taat pada azas yang berlaku. Hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausaha memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan. Ketaatan wirausaha akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah contoh kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.
2.      Berkomitmen Tinggi
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausaha harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausaha terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan sebagainya. Seorang wirausaha yang teguh menjaga komitmennya terhadap konsumen akan memiliki nama baik di mata konsumen, dengan dampak pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target perusahaan yaiitu memperoleh laba yang diharapkan.
3.      Jujur
Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausaha. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks. Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan oleh seorang wirausaha.
4.      Kreatif dan Inovatif
Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausaha harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada di pasar selama ini. gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yang memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.
5.      Mandiri
Seseorang dikatakan mandiri apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa adanya ketergantungan ddengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha. Pada prinsipnya seorang wirausaha harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.

6.      Realistis
Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta atau realita sebagai landasan berfikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan atau perbuatannya. Banyak seorang calon wirausaha yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena wirausaha tersebut tidak realistis, obyektif dan rasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya. Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan atau sumbang saran yang berkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Dibawah ini adalah contoh sikap-sikap yang akan ditunjukkan oleh seorang wirausaha dalam kehidupannya sehari-hari.
1.      Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, dan optimisme.
2.      Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik, dan memiliki inisiatif.
3.      Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
4.      Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
5.      Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
6.      Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
7.      Memiliki keyakinan bahwa itu sama dengan kerja keras.

Menurut Zimmerer, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan seorang wirausaha, diantaranya:
1.      Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
2.      Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
3.      Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
4.      Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5.      Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
6.      Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.
7.      Sikap yang kurang bersungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi lebih besar.
8.      Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan atau transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ternyata mendirikan atau mempunyai sebuah usaha atau bisnis tidaklah gampang dan tidak semua orang bisa melakukannya. Tetapi, kita harus tetap yakin bahwa kita pasti mampu melakukannya. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Referensi:

Minggu, 20 Januari 2013

Sosial, Budaya, dan Globalisasi


Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi sempit. Globalisasi juga bisa diartikan dengan suatu proses dimana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.
Dalam berbagai hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah tersebut sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. Berikut ini beberapa ciri-ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalosasi di dunia.
*      Perubahan dalam konstantin ruang dan waktu. Kemajuan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepat.
*      Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi  seperti World Trade Organization (WTO).
*      Peningkatan interaksi budaya melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olahraga internasional). Saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
*      Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional, dan lain-lain.
Globalisasi berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang dapat menerima adanya globalisasi, ada pula masyarakat yang sulit menerima atau bahkan menolak globalisasi. Generasi muda, masyarakat dengan status sosial yang lebih tinggi, dan masyarakat kota cenderung mudah menerima datangnya globalisasi. Sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, generasi tua yang memiliki kehidupan stagnan, dan masyarakat yang belum siap baik secara fisik maupun mental cenderung sulit menerima adanya globalisasi.
Unsur globalisasi yang mudah diterima oleh masyarakat adalah sebagai berikut.
*      Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
*      Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
*      Pendidikan formal di sekolah.
Sedangkan unsur globalisasi yang pada umumnya sukar diterima  masyarakat adalah sebagai berikut.
*      Teknologi yang rumit dan mahal.
*      Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
*      Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Modernisasi dan globalisasi membawa dampak positif ataupun negatif terhadap perubahan dalam berbagai bidang di suatu negara.
a.      Dampak positif globalisasi
*      Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan.
*      Mudah berkomunikasi.
*      Cepat dalam bepergian (mobilitas yang tinggi).
*      Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran.
*      Memacu untuk meningkatkan kualitas diri.
*      Mudah memenuhi kebutuhan.
b.      Dampak negatif globalisasi
*      Informasi menjadi tidak tersaring.
*      Perilaku konsumtif.
*      Membuat sikap menutup diri dan berpikiran sempit.
*      Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk.
*      Mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau asing.
Globalisasi juga berpengaruh dalam bidang sosial dan budaya dalam suatu negara. Globalisasi mengubah bentuk kehidupan keseharian kita secara mendasar sebagai berikut.
*      Meningkatnya individualisme
Sebelum adanya globalisasi, kesempatan individu untuk menentukan dirinya sendiri dibatasi oleh masyarakat, entah oleh tradisi maupun kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Namun, dalam era globalisasi sekarang ini, kesempatan individu untuk mengatur dan menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri sangat terbuka lebar. Saat ini, masyarakat sudah tidak begitu memperdulikan kehidupan orang lain seperti mereka memperdulikan kehidupan orang saat globalisasi belum ada. Mereka lebih memilih mengurus kehidupan masing-masing daripada ikut campur dalam kehidupan orang lain.
*      Pola kerja
Pekerjaan-pekerjaan mengarah pada era perekonomian yang berbasis pengetahuan. Orang-orang sudah tidak mengandalkan kerja penuh di kantor. Akibat dari kemajuan teknologi, mereka bisa mengerjakan pekerjaan kantor mereka dimanapun dan kapanpun. Mereka  bisa saja menyelesaikan pekerjaan mereka di rumah lalu mengirimkannya melalui e-mail. Saat ini, dunia kerja tidak hanya untuk laki-laki, perempuan juga telah masuk dunia kerja.
*      Kebudayaan Pop
Citra, gagasan, dan gaya hidup baru menyebar dengan begitu cepat ke seluruh pelosok dunia, lebih cepat daripada sebelumnya. Semua itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Globalisasi juga dapat memberikan pengaruh dalam bidang sosial dan budaya dalam suatu negara. Berikut adalah akibat dari pengaruh globalisasi dalam bidang sosial dan budaya.
*      Disorientasi, dislokasi atau krisis sosial dan budaya dalam masyarakat.
*      Semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme dan hedonisme.
*      Erosi budaya suatu negara.
*      Lenyapnya identitas budaya nasional dan lokal.
*      Kehilangan arah sebagai bangsa yang memiliki jati diri.
*      Hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme.
*      Cenderung pragmatis dan maunya serba instan.

PENGARUH GLOBALISASI SOSIAL BUDAYA TERHADAP NEGARA INDONESIA
Globalisasi sosial dan budaya sudah memasuki negara Indonesia sejak lama. Globalisasi ini cenderung lebih diterima oleh para remaja, masyarakat dengan status sosial yang lebih tinggi, dan masyarakat yang hidup di kota. Namun, tidak menutup kemungkinan, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil juga bisa menerima adanya globalisasi. Hal tersebut tidak terlepas dari peran kemajuan teknologi.
Saat ini, di era globalisasi, semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, semua informasi yang berasal dari daerah atau bahkan negara lain bisa masuk ke dalam kehidupan kita dengan begitu cepat. Sebagai contoh, pada tanggal 17 Januari 2013 di Ibukota Jakarta sedang terjadi banjir. Karena kemajuan ilmu pengetahuaun dan teknologi, masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, dan kota-kota lainnya bisa mengetahui informasi bencana tersebut pada hari itu juga. Bahkan, masyarakat yang tinggal di negara-negara lain juga dapat mengetahui informasi tentang kejadian tersebut tanpa harus datang dan menyaksikannya secara langsung.
Selain memabawa dampak positif terhadap dunia, globalisasi juga membawa dampak negatif. Walaupun sebenarnya dampak negatif itu telah dirasakan oleh masyarakat, namun mereka tidak menyadari bahwa globalisasi telah menjajah mereka. Sebagai contoh, akibat dari adanya globalisasi dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat, salah satunya masyarakat Indonesia, mulai mempelajari dan mengikuti budaya-budaya negara asing yang menurut mereka adalah budaya yang unik dan bagus. Bahkan mereka bisa mempelajarinya tanpa harus datang langsung dan mempelajarinya secara langsung di negara yang bersangkutan.
Kebudayaan Indonesia saat ini sudah mulai tersingkirkan dengan adanya kebudayaan asing yang lebih mendunia. Padahal jika lebih diperhatikan lebih diteliti lagi, kebudayaan Indonesia tidak kalah bagus dan uniknya bila dibandingkan dengan kebudayaan lain. Dan sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya para remajanya, saat ini lebih tertarik pada budaya asing daripada budaya negeri sendiri.
Tidak pernahkah kita bayangkan betapa bahagianya masyarakat negara lain saat mereka mengetahui bahwa budaya mereka sedang kita pelajari sedangkan kita sendiri buta tentang budaya negeri sendiri? Tidak sadarkah kita kalau kita sedang dijajah oleh bangsa lain saat kita mempelajari budaya mereka dan mulai meninggalkan budaya kita sendiri?
Kebudayaan bukan hanya mengenai suatu tarian ataupun alat musik yang kuno dan antik serta situs sejarahnya. Kebudayaan bisa juga mengenai bahasa dari negara itu sendiri, perilaku dari bangsanya, dan segala sesuatunya yang bisa mengidentifikasi tentang negara tersebut.
Bicara mengenai bahasanya, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bukannya memperbaiki cara mereka berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka malah asyik sibuk kursus kesana kemari untuk mempelajari bahasa asing. Tidak bisa disangkal, sebagai makhluk sosial manusia harus mempelajari bahasa dan budaya asing agar bisa berkomunikasi dan beradaptasi dengan masyarakat dari negara lain.
Perilaku. Perilaku masyarakat Indonesia saat ini bisa dibilang sudah banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya asing. Individualisme sudah hampir merata dalam pribadi masyarakat Indonesia. Sekarang ini, gotong royong yang merupakan asli dari budaya negara kita sudah mulai jarang dilakukan, terutama di kota-kota besar. Ketika ada orang lain yang jatuh dari motor misalnya. Mereka yang melihat kejadian tersebut hanya menonton saja. Jangankan bergerak mendekat, bergemingpun tidak.
Jika kita pergi ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, dan sebagainya, kita akan lebih sering melihat perempuan-perempuan dengan celana pendek dan rok mininya daripada celana atau rok panjang yang menutup kaki jenjang mereka. Padahal perilaku tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan asli negeri kita.
Ketika kita sibuk dengan budaya dan pernak-pernik negara lain, ada sebuah negara yang mengakui salah satu kebudayaan milik kita sebagai kebudayaan negara mereka, kita barulah sadar bahwa kita juga mempunyai kebudayaan yang ternyata disukai oleh bangsa asing sampai-sampai diperebutkan oleh mereka, yang diam-diam juga mempelajari budaya negeri kita.
Sebagai manusia yang mempunyai rasa ingin tahu dan penasaran yang tinggi, memang sudah sewajarnya bila kita ingin tahu dan ingin mempelajari tentang budaya negara asing. Namun, jangan sampai karena keingintahuan kita, kita malah dijajah oleh bangsa lain tanpa kita sadari. Tidak ada salahnya bila kita mulai mempelajari kebudayaan dengan mempelajari kebudayaan kita terlebih dahulu. Dan ambillah nilai-nilai positif dari kebudayaan-kebudayaan asing yang kita pelajari yang sesuai dengan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.


Referensi:

Minggu, 18 November 2012

Kendalikan Emosimu sebelum Emosi Mengendalikanmu

Sebenarnya apa sih emosi itu? Emosi itu adalah amarah, kekesalan, kejengkelan terhadap seseorang atau sesuatu. Kejengkelan atau kekesalan yang sudah dipendam terlalu lama bisa menyebabkan timbulnya emosi. Biasanya orang yang sedang emosi akan menunjukkan beberapa sikap atau perilaku sebagai berikut.
·         membentak atau berteriak kepada lawan bicara
·         memukul lawan bicara
·         berkata kasar pada lawan bicara
·         membanting atau memukul benda-benda disekitarnya
·         tidak menanggapi lawan bicara, dan sebagainya.
Biasanya orang yang emosi tidak mau orang lain tahu bahwa dirinya adalah orang yang lemah. Dan hal-hal diatas mereka lakukan untuk menutupi kekurangan ataupun kesalahannya.
Emosi merupakan pencerminan dari sikap egois kita. Pernah liat orang yang sedang emosi kan? Jelas sekali terlihat betapa egoisnya seseorang ketika emosi. Saat emosi, kita akan merasa diri kitalah yang paling benar dan tidak peduli pada pendapat orang lain. Saat emosi, kita tidak akan mempedulikan bagaimana perasaan orang lain. Saat emosi kita tidak akan peduli terhadap lingkungan disekitar kita. Bahkan kita tidak akan menyadari kata-kata yang telah kita ucapkan, yang bisa jadi kata-kata tersebut menyakiti perasaan lawan bicara kita. Sebaiknya ketika emosi kita harus bisa mengendalikan dan memikirkan kembali apa yang akan kita ucapkan. Karena jika kita sudah mengucapkan kata-kata kasar dan menyakiti perasaan lawan bicara kita, kata-kata kita akan terus diingat oleh lawan bicara kita meskipun kata-kata tersebut telah kita ucapkan berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Sadarkah kita ketika emosi pikiran kita menjadi tidak karuan? Ya, emosi menjadikan kita tidak bisa berpikir jernih dalam menghadapi masalah. Itu sebabnya sering terjadi perkelahian yang diawali dengan emosi yang tidak bisa dikendalikan. Walaupun sebenarnya masalah yang kita hadapi tersebut sangatlah sederhana, namun apabila emosi telah ikut campur dalam masalah kecil yang kita hadapi dan kita tidak bisa mengendalikan emosi kita, masalah tersebut akan menjadi masalah besar yang tidak ada gunanya. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa membiasakan diri untuk mengendalikan emosi dan berpikir jernih dalam menghadapi setiap masalah dan tidak mempermasalahkan hal-hal yang sepele.
Sebenarnya saat kita emosi, semua otot-otot yang ada di tubuh kita ikut menegang. Oleh karena itu setelah kita emosi kita akan merasa lelah, gerah, dan sebagainya. Emosi sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan kita. Emosi menyebabkan darah yang ada di dalam tubuh kita mengalir ke atas, sehingga bisa menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi. Bukan hanya penyakit tekanan darah tinggi saja, emosi juga bisa menyebabkan berbagai macam penyakit dalam lainnya, seperti stress, kolesterol, stroke, penyakit jantung, dan sebagainya.
Emosi tidak timbul dengan sendirinya atau tanpa adanya alasan yang jelas, kecuali untuk orang dengan sifat tempramen, karena emosi bukanlah sesuatu yang bersifat spontanitas. Ada beberapa orang yang lebih memilih memikirkan untuk perlu emosi apa tidak sebelum akhirnya emosi. Ada juga yang tanpa pikir panjang langsung menyemprot lawan bicara dengan berteriak dan membentak-bentaknya. Emosi itu adalah pilihan. Emosi akan menunjukkan kepada khalayak siapa kita dan seperti apa kita sebenarnya. Walaupun kita berusaha menjaga image di depan orang lain dengan bersikap kalem dan pendiam, namun bila kita menghadapi masalah dengan emosi tak bisa dipungkiri lagi nama baik kita pasti langsung tercoreng.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan timbulnya emosi adalah sebagai berikut.
·         Faktor usia
Usia sangatlah mempengaruhi emosional seseorang. Semakin tua usia seseorang, semakin bijaksanalah orang tersebut. Karena orang yang lebih tua biasanya lebih banyak pengalaman dalam menghadapi masalah dan banyak belajar dari masalah-masalah tersebut. Oleh sebab itu, banyak perkelahian atau sejenisnya yang dilakukan oleh anak-anak muda. Jarang kan kita melihat ada tawuran yang didominasi oleh sekelompok orang dengan usia lebih dari 50 tahun? Hal tersebut terjadi karena anak-anak muda bersifat lebih sensitf dan lebih mengutamakan emosi mereka daripada membicarakannya secara kekeluargaan.
·         Kedewasaan
Usia bukanlah pengukur tingkat kedewasaan seseorang. Walaupun masih berusia belasan tahun, jika kita sudah menghadapi masalah dengan bijaksana dan tidak mengutamakan emosi, apa salahnya? Lebih cepat bisa mengendalikan emosi kan juga lebih baik.
·         Jenis kelamin
Jenis kelamin (gender) juga mempengaruhi timbulnya emosi. Biasanya hal ini terjadi pada kaum perempuan. Karena perempuan lebih perasa dan selalu melibatkan perasaan dalam setiap masalah. Berbeda dengan laki-laki yang selalu menggunakan logika bila menghadapi masalah. Namun, banyak juga laki-laki yang tidak menggunakan logikanya dalam menghadapi masalah dan lebih mementingkan emosinya.
·         Tempramen
Tempramen adalah suasana hati yang menjadi ciri khas kehidupan emosional seseorang. Memang ada beberapa orang yang memiliki sifat tempramen seperti ini. Selalu emosi dalam menghadapi setiap masalah. Bahkan terkadang tiba-tiba emosi tanpa ada yang tahu apa alasannya. Biasanya orang tempramen sangat tergantung dengan suasana hatinya dan emosi akan timbul bila suasana hatinya sedang tidak baik.
·         Kesabaran.
Setiap manusia pasti memiliki kesabaran di dalam dirinya. Yang menjadi masalah disini adalah seberapa lama kesabaran tersebut bisa bertahan dan menghindari timbulnya emosi yang bisa merugikan kedua belah pihak. Semakin lama kesabaran tersebut bertahan, semakin sedikit emosi yang timbul di muka bumi. Contohnya saja saat kita menunggu koneksi internet yang sedang bermasalah. Jika orang yang tidak mempunyai kesabaran lebih, maka orang tersebut bisa saja menghadapi hal sepele tadi dengan marah-marah, mengumpat, dan sebagainya. Padahal sebenarnya hal tersebut sangatlah tidak perlu dilakukan karena sangat membuang-buang tenaga dan energi kita.
·         Ketidakcocokan pemikiran antara kita dan orang lain
Berbeda pendapat dengan orang lain adalah hal biasa yang sering terjadi dalam kehidupan. Hal inilah yang bisa menimbulkan terjadinya emosi. Saat kita berbeda pendapat dengan orang lain dan kita merasa pendapat kitalah yang paling benar, kita akan langsung tersulut emosi. Padahal belum tentu pendapat kitalah yang terbaik. Ada baiknya ada pihak ketiga yang bisa mengambil keputusan untuk mana yang lebih baik. Karena biasanya orang yang tidak terlibat dan tidak tahu menahu tentang perdebatan tersebut mempunyai sudut pandang yang lebih umum yang tidak merugikan pihak manapun.
·         Berpikiran negatif
Berpikiran negatif sangatlah dilarang oleh agama dan kita diharuskan untuk selalu berpikiran positif tentang orang lain. Karena ternyata berpikiran negatif juga bisa menimbulkan emosi. Ternyata emosi juga bisa timbul karena bagaimana pendapat kita tentang orang lain. Jika kita sudah terlanjur berpikiran negatif tentang orang lain, apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh orang tersebut bisa menyulut emosi kita. Jika kita selalu berpikiran negatif pada orang lain dan tidak pernah melihat sisi positifnya, kita akan selalu merasa emosi dengan apa saja yang dia lakukan. Bahkan dengan melihat wajahnya saja kita bisa emosi bila terus menerus berpikiran negatif tentang orang lain.
·         Lapar
Emosi juga bisa timbul saat seseorang sedang lapar. Itu sebabnya ada pepatah mengatakan jangan pernah berdebat dengan orang yang sedang lapar. Karena ternyata saat kita sedang lapar, hawa negatif terutama emosi lebih mudah masuk ke dalam diri kita.
·         dan masih banyak lagi
Sebagai manusia yang kurang dari sempurna, kita pasti mempunyai emosi dengan kadarnya masing-masing. Ada yang lebih cepat emosi, ada juga yang lebih sabar dan lebih bisa mengontrol emosinya. Setidaknya kita harus bisa menimimalisir emosi kita bila kita tidak bisa menghilangkan emosi kita demi terjaganya perdamaian dunia. Karena emosi tidak bisa hilang begitu saja, tentu ada proses-prosesnya. Semakin matang dan dewasa pemikiran kita, maka emosi yang ada di dalam diri kita juga akan dengan semakin mudah dikendalikan. Ingatlah bahwa setiap perdebatan, pertengkaran, perkelahian, dan sebagainya yang pernah terjadi dalam kehidupan kita pasti diawali tidak jauh dari emosi.
Untuk membina kehidupan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar, kita harus bisa mengendalikan emosi kita karena emosi sangatlah merugikan untuk diri sendiri maupun orang lain. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan emosi adalah sebagai berikut.
·         Sesaat sebelum emosimu terpancing, usahakan untuk diam sejenak. Hindari mengatakan kata-kata kasar yang bisa menyakiti lawan bicara karena efek sampingnya bisa melekat sampai puluhan tahun ke depan. Mungkin kita akan secara tidak sengaja dan refleks mengatakan kata-kata tersebut namun ada baiknya kita memikirkannya terlebih dulu sebelum mengucapkannya.
·         Tarik napas dalam-dalam dan tahan selama sepuluh detik. Hal ini efektif untuk mencegah timbulnya emosi yang ada di dalam diri kita. Karena saat emosi, darah yang ada di dalam diri kita mengalir naik. Namun, ketika kita menarik napas tadi, oksigen akan masuk ke dalam ke ruang otak kita dan membuat kita menjadi lebih rileks dan tenang.
·         Ingatlah bahwa kita hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan apapun baik disengaja maupun tidak disengaja. Bayangkan bila kita ada di posisinya. Kita pasti tidak mau tiba-tiba dimarahi orang lain bila kesalahan yang kita lakukan merupakan kesalahan yang tidak disengaja. Dan cobalah untuk bisa memaafkan orang lain. Karena dengan saling memaafkan emosi yang ada di dalam diri kita bisa dengan mudah mereda.
·         Pikirkan semua hal-hal positif yang pernah dilakukan oleh orang lain pada kita. Karena semua yang terjadi dalam hidup kita berasal dari pikiran-pikiran kita. Bila kita berpikiran positif pada orang lain maka kita akan bisa merasakan kebaikan-kebaikan orang lain dan kita tidak akan dengan mudah emosi kepada orang lain.
·         Pikirkan semua hal yang akan terjadi jika kita emosi di depan umum. Nama baik yang telah kita bangun selama bertahun-tahun akan tercoreng dengan emosi yang hanya berlangsung beberapa menit saja. Jangan biarkan emosi menguasai dirimu dan jangan terus menerus larut dalam emosi karena hal itu sangatlah tidak sedap bila dipandang mata dan sangatlah tidak baik untuk kesehatan kita.
·         Jangan jadikan emosi sebagai prioritas pertama dalam menghadapi masalah kita. Jangan menganggap bahwa emosi bisa menyelesaikan masalah-masalah kita. Salah besar. Masalah akan terselesaikan dengan baik bila kita menyelesaikan dengan baik-baik juga.
Jadi, para sahabat-sahabatku sekalian, marilah kita kendalikan emosi kita betapapun susahnya itu. Karena emosi sama sekali tidak ada manfaatnya, malah cenderung mengakibatkan banyak kerugian. Untuk diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya. Tubuh kita menjadi rentan terhadap berbagai penyakit, orang lain menjauhi kita dan tidak sudi untuk berteman dengan kita jika kita masih memelihara emosi di dalam diri kita. Bahkan orang yang tidak kenal dengan kita akan menjudge kita sebagai pribadi yang buruk saat melihat kita emosi. Gak mau kan orang tiba-tiba orang menjudge kita sebagai orang yang emosional padahal kita tidak kenal dengan orang tersebut.
Orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya termasuk dalam orang-orang yang lemah. Jika orang sudah mengutamakan emosi, pasti akan terjadi keributan dimana-mana. Tidak akan ada perdamaian di muka bumi ini. Walaupun emosi sangat susah untuk dikendalikan, tapi apa salahnya mencoba mengendalikannya? Kalau sudah terbiasa gak akan susah kok. Biasakan untuk terbiasa tidak mengutamakan emosi dalam menghadapi setiap masalah.

Referensi:

Jumat, 16 November 2012

Breaking Dawn oh Breaking Dawn...

hari ini adalah hari perdananya breaking dawn part 2..sebelumnya, aku gak minat banget nonton breaking dawn..kenapa? karena aku pikir breaking dawn part 2 akan sama mengecewakannya dengan film-film yang diangkat dari novel-novel gitu..contohnya aja twilight, new moon, sama eclipse..jujur, aku gak puas banget sama film-film tadi..kurang greget gimanaa gitu..taapiiiii..sehari sebelum breaking dawn part 2 release, aku coba search trailernya dan trailernya itu keren banget..bikin penasaran..dan akhirnya aku jadi antusias banget pengen nonton breaking dawn part 2...
dan akhirnya, tanpa harus antre panjang, nunggu lama, aku udah dapet tiket nontonnya di hari pertama release lagi..what a lucky day!

awalnya sih seneng akhirnya nonton breaking dawn part 2,. eeeeeh, ,pulang dari nonton otakku jadi ngeblank gitu..seolah-olah otakku tertinggal di gedung bioskop itu..

tak apalah, nanti juga moodnya balik lagi..semangaaattt!!!

Minggu, 11 November 2012

tiada hari tanpa T.U.G.A.S.

Yaahhh.......begitulah kehidupanku sekarang...tiada hari tanpa tugas.
setiap hari harus mengerjakan tugas ini, tugas itu...apalagi yang paling aku benci adalah tugas pemahaman lintas budaya.

pernah ada dosen yang bilang klo cross culture itu asyik..tapi nyatanya apa??
mungkin asyik klo dengan dosen yang tepat kali ya?

dosen cross culture pas minggu pertama sih oke..walaupun udah berumur, tapi beliau tuh asiik..yaah, walaupun bikin jantung deg-degan gitu...
taaaaapppiiiiiiiiii...dari minggu kedua sampai mau UTS nih, dosennya tuh gak bisa dibilang asik dan gak bisa dibilang oke..gak banget deh pokoknya..bukannya mau jelek-jelekin dosen itu, tapi emang dia gitu kok..semua temen-temenku juga pada bilang gitu.
pertama, beliau tuh BUKAN dosen cross culture..tau dosen apa? BAHASA INDONESIA..jadilah sepanjang mata kuliah cross culture yang dibahas bahasa mulu..dari asal kata bahasa sampe fungsi bahasa..bahkan tugasnya pun disuruh nyari '5 pengertian penting mengenai bahasa'...
kedua, denger-denger sih pernah tinggal di Perancis..oleh karena itu, terkadang bahasa yang digunakan pun bahasa Perancis..malah pernah suatu hari, setengah dari jam mata kuliah beliau pake buat nerangin artikel gitu tentang Perancis dan PAKE bahasa Perancis..terang aja semuanya pada ngomong sendiri, maenan hape, berngantuk-ngantuk ria, dan sebagainya..trus beliau kaya jengkel gitu..alhasil kita dikasih tugas perdana yang bejibun..perbandingan Jepang- Indonesia lagi..padahal di SAP nya gak ada tuh kata-kata Jepang..udah gitu, satu minggu kemudian dibahaslah tugas kita..dan lagi-lagi, yang dijelasin buat perbandingan bukannya Jepang sama Indonesianya malah Perancis-Indonesia..
pengen deh rasanya teriak pas beliau lagi nerangin tentang bahasa..."Bu, kayanya udah melenceng jauh banget deh. kita kan lagi belajar cross culture, kenapa nyambungnya ke bahasa?" tapi sayang, nyaliku gak sebesar itu..dan setiap nerangin bahasa, beliau pasti nyempilin kata-kata "kalian kan anak sastra, jadi harus tau ya tentang ini (asal muasal kata bahasa, fungsi bahasa, dan sebagainya)."
kita bahkan udah curhat ke sana kemari, semua dosen udah kita curhatin, tapi belum ada hasilnya juga..sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Oh, God...

Sabtu, 29 September 2012

Can You Hear My Heart?


Title: 내 마음이 들리니 / Nae Maeumi Deulrini
Also known as: Do You Hear My Heart
Genre: Romance, drama
Episodes: 30


Cast
Kim Jae Won as Cha Dong Joo
Kang Chan Hee (강찬희) as young Dong Joo
Hwang Jung Eum as Bong Woo Ri
Kim Sae Ron as young Woo Ri
Nam Goong Min as Jang Joon Ha
Seo Young Joo as young Joon Ha / Bong Ma Roo

Extended Cast
Go Joon Hee as Kang Min Soo
Lee Kyu Han as Lee Seung Chul
Jung Bo Suk as Bong Young Kyu
Lee Hye Young as Tae Yeon Sook
Song Seung Hwan as Choi Jin Chul
Yoon Yeo Jung as Hwang Soon Geum
Kang Moon Young (강문영) as Kim Shin Ae
Kim Yeo Jin as Na Mi Sook
Lee Sung Min as Seung Chul's father
Hwang Young Hee (황영희) as Seung Chul's mother
Noh Hee Ji (노희지) as Park Dae Ri

Sinopsis
Episode 22 [part 1] [part 2]
Episode 23 [part 1] [part 2]
Episode 29 [part 1] [part 2]

Rabu, 19 September 2012

Sinopsis Dream High 2



Title : 드림하이 시즌2 / Dream High (Season 2)
Chinese Title : 星梦高飞2 / 追梦高中2
Genre : School, musical, comedy, romance
Episodes : 16
Related Series : Dream High Series



Main Cast
Kang Sora as Starfish / Shin Hae Sung
JB as JB / Jang Woo Jae
JinWoon as Janet / Jin Yoo Jin
Ji-yeon as Rian / Lyan / Lee Ji Kyung (Hershe member)
Hyorin as Nana / Kim Jae Hee (Hershe member)
Park Seo Joon as Si Woo / Rain

Kirin's Students
Ailee as Ailee (Hershe member)
Jr. as Jung Ui Bong
Yu So Young as Park Soon Dong / Pak Shun Tong
Kim JiSoo as Park HongJoo
Jung Yun Ju as Lee Seul

Kirin's Teachers
Park Jin-young as Yang Jin Man (English Teacher)
Kwon HaeHyo as Joo Jung Wan (Principal)
Kim JungTae as Lee Kang Chul (President)
Choi Yeo Jin as Ahn Tae Yeon (Vocal Teacher)
Park Kahi as Hyun Ji Soo (Dance Teacher)

Cameos
Kim Soo-hyun as Song Sam Dong (ep 1)
IU as Kim Pil Sook (ep 1)
Toxic as band performing with Yoo Jin in Hongdae (ep 1)
MYNAME as OZ Entertainment Agency's idol group (ep 2)
Boyfriend as themselves (ep 2)
PSY as trainer coach (ep 5)
YeEun as Park Ye Eun(herself) (ep 9)
miss A as themselves (ep 15)

Other Casts
Yoon Hee Suk as Shin Jae In
Hwang Mi Sun as Rian's mother
Jung Kyu Soo as Hae Sung's father
No Jung Ui as Shin Hae Poong (Hae Sung's sister)


Plot

Dream High Season 2 follows a group of students at the Kirin High School of Art stars who pursue their dream of becoming K-pop idol stars. The group of students in Dream High Season 2 deal with a completely new group of students.

In Season Two, after going into financial bankruptcy, the Kirin High School of Art is taken over by Oz Entertainment. The company then transfers its own young in-training idol stars to Kirin High to circumvent a law requiring under-age entertainers to study for a set amount of time. Competition then brews between the troubled students at Kirin High School of Art and the newly transferred in-training idol stars from Oz Entertainments.

Shin Hae Sung (Kang Sora) enters the Kirin High School of Art with a high written exam score, but a poor performance score. She meets fellow students, Jin Yoo Jin (Jung Jin-woon) and JB who she later be friends. Yoo Jin, who originally got into the entertainment industry as a child actor, is now troubled by his dreams of becoming a pop star, as he tries to cope the pain of his parent's divorce.

JB, a member of a famous group "I:dn", develops feelings for Hae Sung and later on dates her.

Rian (JiYeon), a member of a famous k-pop group "Hershe", chases after her ex-boyfriend, JB. Meanwhile, Yoo Jin (Jinwoon), who also likes Hae Sung, together with Rian, try to separate the couple. Later on, Rian and Yoo Jin give up their feelings and Hae Sung and JB end up just as friends.