Selasa, 13 Mei 2014

Kritik Artikel “Indonesia, Antara Mayoritas dan Minoritas” yang ditulis oleh Ali Mustafa Yaqub

Ali Mustafa Yaqub adalah seorang Imam Besar Masjid Istiqlal dan seorang Advisor Darul Uloom, New York. Berdasarkan artikel yang beliau tulis di Koran Kompas pada tanggal 14 Maret 2014, beliau telah menerima kunjungan 15 orang wartawan yang tergabung dalam East and West Center pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2014. Para wartawan tersebut mengunjungi sang Imam Besar dalam rangka berdialog dengan beliau mengenai masalah Islam dan demokrasi. Dalam dialog yang berlangsung hampir dua jam itu, ada pertanyaan yang menarik yang dilontarkan oleh wartawan dari Myanmar dan wartawan dari India. Mereka bertanya apa yang menyebabkan konflik antarumat beragama tidak terjadi di Indonesia padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam? Kepada mereka, sang Imam Besar menjelaskan bahwa Islam memiliki prinsip dalam menjaga kerukunan antarumat beragama sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an yaitu: “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Prinsip itu berarti bahwa kelompok non-Muslim punya hak untuk menjalankan ajaran agamanya, sementara kelompok Muslim tak boleh mengganggu mereka. Begitu pula dengan kelompok Muslim. Mereka juga memiliki hak untuk menjalankan ajaran agamanya, sementara kelompok non-Muslim tak boleh mengganggu.
Dari uraian singkat tentang artikel tersebut, dapat kita ketahui betapa hebatnya penduduk Indonesia. Mereka tetap menghormati warga yang beragama berbeda sementara terjadi konflik antarumat beragama di negara lain. Seperti yang telah diketahui bahwa mayoritas penduduk di Indonesia adalah beragama Islam dan penduduk yang beragama selain Islam sebagai minoritasnya. Meski begitu, sangat jarang ditemui adanya konflik antarwarga karena masalah agama. Mereka tetap hidup rukun meski memanggil nama Tuhan dengan cara yang berbeda. Itulah mengapa muncul pertanyaan tentang tidak terjadinya konflik antarumat beragama di Indonesia. Boleh jadi para wartawan yang bertanya demikian karena mereka membandingkan kehidupan beragama di Indonesia dengan kehidupan beragama di negara mereka masing-masing, yaitu Myanmar dan India.
Meskipun banyak berita atau hal-hal buruk yang sering terjadi di Indonesia, setidaknya ada hal positif yang dapat kita banggakan sebagai warga negara Indonesia, yaitu terjalinnya kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Meski terdengar sepele, berapa banyak negara yang warga negaranya saling hidup rukun meskipun memiliki agama yang berbeda?

Kritik Artikel “Klenik dan Politik” yang Ditulis oleh Jacob Sumardjo

“Setiap menjelang pemilihan kepala pemerintahan, bisnis klenik atau perdukunan dan ziarah kuburan keramat meningkat tajam.”

Begitulah yang tertulis dalam artikel yang berjudul “Klenik dan Politik” yang ditulis oleh Jacob Sumardjo yang dimuat di koran Kompas pada hari Kamis, 13 Maret 2014. Menurut artikel yang beliau tulis, masih ada beberapa politikus yang masih mempercayai dukun atau orang sakti di zaman yang serba modern ini. Kebanyakan dari mereka mendatangi dukun atau orang yang memiliki kesaktian atau bahkan ziarah ke keburuan keramat pada saat mereka akan maju menjadi pemimpin suatu daerah. Tak mengherankan bila praktek perdukunan masih marak terjadi meskipun banyak pihak menentang adanya praktek perdukunan tersebut.
Mereka yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat dalam rangka meminta sesuatu darinya bisa dibilang mereka adalah orang-orang yang tidak percaya pada kemampuan dirinya. Bisa jadi mereka juga meragukan akan kekuasaan sang Ilahi atau Tuhan Yang Maha Esa. Padahal tak jarang dari mereka yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat adalah orang-orang yang mengaku beragama dan bahkan berpendidikan tinggi. Tapi mungkin hanya dengan beragama dan berpendidikan tinggi tidak bisa membuat mereka untuk tidak mempercayai dukun atau orang sakti atau kuburan keramat.
Awalnya saya tidak percaya bahwa calon pemimpin yang notabene adalah orang yang berpendidikan bisa mendatangi dan mempercayai dukun atau orang sakti. Saya berpikir bahwa tidak mungkin di zaman yang serba modern ini masih ada orang berpendidikan yang mempercayai hal semacam itu. Tapi rupa-rupanya memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Menurut saya, klenik, perdukunan atau hal lainnya yang sejenis adalah produk lama atau jadul atau kuno yang sudah akan ditinggalkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi atau bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri.
Nyatanya praktek perdukunan memang sudah marak dilakukan dari zaman dahulu. Berbeda dengan sekarang, pada waktu lalu, mendatangi dukun atau orang sakti hanya dilakukan oleh orang-orang desa atau kampung yang miskin dan ingin cepat kaya. Tapi sepertinya pada saat sekarang ini, mendatangi dukun sudah sering dilakukan oleh orang-orang intelek dan mengaku beragama hanya untuk mendapatkan kekuasaan di dunia. Sampai saat ini saya masih belum mengetahui alasan pasti mengapa ada orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama tapi mendatangi para dukun atau orang sakti atau kuburan keramat. Padahal jelas tertulis dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari istri-istri Rasulullah SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda yang artinya: “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun dan bertanya sesuatu maka dia tidak akan diterima sholatnya selama empat puluh hari.” Lalu, bagaimana mungkin mereka yang mengaku beragama bisa mendatangi dukun atau orang sakti padahal telah tertulis hadist yang berbunyi seperti demikian itu.
Selama masih ada orang yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat, selama itu juga praktek perdukunan tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Perubahan tidak bisa dicapai bila hanya satu pihak yang melakukan, tapi dari kedua belah pihak.

Kritik Artikel “Dasar Bule” yang Ditulis oleh Jean Couteau

Dalam tulisannya di kolom PERSONA pada koran KOMPAS, Minggu, 16 Maret 2014, Jean Couteau menyakatan di awal kalimatnya bahwa terkadang sulit untuk tidak mempunyai prasangka etnis atau rasial. Saya sependapat dengan pernyataan beliau mengenai fakta tersebut. Memang sangat sulit untuk tidak mempunyai prasangka mengenai etnis atau ras seseorang. Bahkan terkadang ada beberapa orang yang tak segan-segan menanyakan asal seseorang untuk menentukan rasnya, misalnya dengan melontarkan pertanyaan “Kamu berasal dari mana?” atau “Kamu orang mana sih?” Secara tidak langsung pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita untuk berprasangka mengenai etnis atau rasialnya. Sebagai contoh, apabila ada orang yang berperilaku lemah lembut dan bertutur kata dengan halus, orang lain akan menggambarkan orang yang berperilaku lemah lembut dan bertutur kata dengan halus itu sebagai orang Jawa. Hal itu disebabkan karena sebagian besar orang berpendapat bahwa orang yang memiliki etnis atau ras Jawa adalah orang yang lemah lembut serta bertutur kata halus. Tak hanya tergantung pada perilaku orang yang disangkakan etnis atau rasnya, kita juga akan berprasangka mengenai etnis atau ras seseorang melalui fisiknya. Seumpama ada orang yang bermata sipit dan berkulit putih, kita akan secara otomatis mengatakan mereka sebagai orang Cina atau Chinese.
Pertanyaannya adalah dari mana kita tahu bahwa orang yang memiliki ras atau etnis Jawa begini dan orang yang memiliki ras atau etnis Padang begitu? Kita bisa mengetahui ciri-ciri orang Jawa atau Padang atau Batak seperti apa adalah dengan mengamati atau bertanya kepada orang yang lebih tua atau yang lebih berpengalaman. Kita bisa mengamati orang-orang terdekat kita yang memiliki etnis yang sama. Jadi, ketika kita menemui perilaku-perilaku atau sifat-sifat yang serupa dari orang yang beretnis Jawa 1 dan orang yang beretnis Jawa 2, secara sadar atau tidak sadar kita akan menarik kesimpulan dengan, paling tidak, kalimat seperti ini: “Oh, orang Jawa begitu toh.” Atau bisa juga dengan mengamati kebiasaan-kebiasaan atau sifat-sifat orang yang beretnis berbeda. Misalnya, kita mengamati orang yang beretnis Padang dan Sunda. Dengan mengamati kebiasaan mereka, paling tidak kita akan tahu perbedaan orang yang beretnis Padang dan Sunda.
Kesimpulannya adalah perilaku-perilaku, tutur kata atau kebiasaan-kebiasaan yang kita tunjukkan pada orang lain dapat membuat orang lain berprasangka mengenai etnis atau ras kita.

Contoh Majas - part 5 -

Sumber: KORAN INDOPOS, 23 Maret 2014
1. Jajaran Komisi C, DPRD Kota Depok kembali naik pitam oleh kinerja Dinas Perhubungan.

2. Marcella dan Olivia mendadak seperti hilang ditelan bumi.

3. Luasnya lautan dan birunya langit begitu mempesona.

4. Suasana di kantor berukuran amat besar untuk kami, yang berjumlah tidak lebih banyak dari jari tangan tampak biasa-biasa saja.

5. Seketika perut saya mengalami gejolak alamiah untuk memberontak.

6. Wajah saya saat itu sedang berseri-seri seperti ditimpa cahaya mentari pagi.

7. Ia sedang asyik duduk bercengkrama diruang khusus para penikmat asap yang ada di teras bagian luar.


8. Semua ide tumpah ruah dimeja kerja saya.

9. Setelah melewati penggodokan hampir selama setengah tahun, akhirnya lahir juga novel itu di tengah publik.

10. Mengguratkan keyakinan pada diri saya bahwa sepatu Dahlan ini bakal meledak dipasar.

11. Gaya bahasanya dibuat sedemikian lembut hingga menyentuh kalbu.

12. Mampu mengajak pembacanya berbicara dengan hati.

13. Kami merasa beruntung diberi dukungan oleh jaringan RM Books, Media masa non Jawa Pos, Sosial Media, para peresensi di Good reads juga dunia blog,dan terutama oleh Abah, yang mau turun gunung untuk terlibat dalam promosi buku.

14. Susunan adegan demi adegan dalam plot yang meruncing tajam.

15. Dia bakal mengharu biru dunia perfilman Indonesia.


Sumber: Koran Transaksi, 24 Maret 2014
16. Ibu Pertiwi yang mulai tercabik-cabik akibat ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

17. Gunung merapi yang selama ini tertidur lelap, ikut terjaga memuntahkan keangkuhanya memporak-porakan bumi nusantara.


Sumber: KOMPAS/KLASIKA/Kamis 20 Maret 2014
18. Suasana malam semakin syahdu jika momen istirahat ditemani alunan ombak.

19. Meskipun tidak semua hotel berbatasan langsung dengan bibir laut, pemandangan yang tersaji di hotel-hotel dan resor ini sungguh memukau.

20. Berikut ini beberapa pemain bertahan tersubur sepanjang masa berdasarkan International Federation of Football History and Statistic (IFFHS).

21. Kereta kencana merupakan komedi tragis tentang pasangan tua yang merindukan kematian di sebuah pulau terpencil.


22. 100 pesan ku kirim kepadamu, hati kita tak bergerak 1cm pun.
Sumber: STATUS BBM Riza Nua, 13 Maret 2014 16:55

23. Lumayan dapat sentuhan dari teplon.. hot parah !
Sumber: STATUS BBM Rahayu Utami, 18 Maret 2014 08:25

24. Akhirnya, bagai sungai mendamba samudra !
Sumber: STATUS BBM Cintia Vantina, 19 Maret 2014 16:20

25. Cintaku setinggi Himalaya.
Sumber: STATUS FACEBOOK Arief Danuarta, 22 Maret 2014

Minggu, 04 Mei 2014

Contoh Majas - part 4 -

1. Bintang lingkungan.
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 7

2. Mata orang itu tampak mengejek.
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 11

3. Berdarah panas
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 12

4. Birokrat kelas teri
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 12

5. Jantungnya seperti diremas tangan besi
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 14

6. Air mata mengalir di wajahnya seperti air terjun Niagara
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 20

7. Hidungnya semerah tomat
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 20

8. Ekspresinya sama mengancamnya dengan pisau daging yang dipegangnya
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 21

9. Naik daun
Sumber: Tabloid TV Remaja Gaul. Edisi 37. Tahun VIII. Megan Fox Pengen Punya Pacar yang Sopan

10. Badai mencakari kamarnya
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 387

11. Pohon-pohon bergoyang seperti kapal di laut
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 387

12. Di matanya yang sebiru tengah malam
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 523

13. Pikiran itu kaya parasut
Sumber: https://mobile.twitter.com/frandevias/status/444679029526773760?screen_name=frandevias

14. Rivaldo putuskan gantung sepatu
Sumber: http://bola.viva.co.id/news/read/488903-usai-24-tahun-berkarier--rivaldo-putuskan-gantung-sepatu

15. Diserang rasa pusing luar biasa
Sumber: Triwikromo, Triyanto. Cerpen: Dongeng New York Miring untuk Aimee Roux. Kompas, Minggu, 16 Maret 2014. Hal. 20

16. Kata-kata yang kedengaran seperti dengung lebah itu
Sumber: Triwikromo, Triyanto. Cerpen: Dongeng New York Miring untuk Aimee Roux. Kompas, Minggu, 16 Maret 2014. Hal. 20

17. Ruhut: Hubungan SBY dan Megawati akan segera mencair
Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2014/04/27/1428010/Ruhut.Hubungan.SBY.dan.Megawati.Akan.Segera.Mencair

18. Sebagai kota pusat administrasi dan ekonomi terpenting, gerak napas budayanya pun berkembang subur.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 8

19. Sejak saat itulah roda kehidupannya berubah.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 11

20. Ia berdarah pribumi.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 195

Contoh Majas - part 3 -

1. Pencarian sosok pemimpin ideal "berlayar" sampai ke kerajaan Kalingga pada abad ketujuh.
Sumber: Kompas, Minggu, 9 Maret 2014

2. Aku tidak perlu jadi pria sejati, cukup menjadi pria dengan posisi tawar tinggi.
Sumber: Touche Alchemist hal. 106

3. Punggung gunung yang berselimut debu selama musim panas terbilas bersih oleh hujan yang berlangsung beberapa hari.
Sumber : Norwegian Wood hal. 3

4. Lalu barangkali sebentar kemudian tertelan oleh kegelapan malam.
Sumber : Norwegian Wood hal. 5

5. Tetapi jika hal itu kulakukan sudah pasti akan terjadi keributan bagai membuka pintu neraka.
Sumber : Norwegian Wood hal. 30

6. Memiliki ayah seorang fotografer majalah Vogue dan ibu seorang sutradara opera membuat darah seni mengalir deras dalam dirinya.
Sumber : Majalah Gadis edisi XLI

7. Gue, Harris Rijad, gak banci, kan, kalau bilang detik ini rasanya jantung gue mau loncat keluar dari dada ini?
Sumber : Antologi Rasa hal. 231

8. Alien di planet pluto aja bisa melihat betapa Keara itu cinta sama Ruly, tapi dia masih aja buta seperti sekarang.
Sumber : Antologi Rasa hal. 270

9. Orang-orang tanpa otak yang memenuhi lift kantor dengan jaket yang baunya seperti sudah tidak dicuci sejak jaman dinosaurus masih beol di planet bumi.
Sumber : Antologi Rasa hal. 277

10. Kalau Raul atau Enzo atau Panji, aku tidak perlu menceritakan mereka akan ngapain, tapi yang jelas tidak akan hanya duduk diam layaknya stupa seperti kamu sekarang.
Sumber : Antologi Rasa hal. 307

11. Wajahnya setenang danau di musim dingin.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 64

12. Matanya mengembara keluar ruang duduk.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 64

13. Antrean di depan pintu masuk gereja itu sangat panjang, mengular sampai ke jalan di sebelah gereja.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 129

14. Kesamaan itu justru menjadi pemecah, ibarat magnet berkutub sama yang akan selalu tolak-menolak.
Sumber : Divortiare hal. 61

15. Aku cuma bisa menghindari tatapannya yang tajam.
Sumber : Divortiare hal. 227

16. Diruang rapat, aku mencoba terhanyut dengan pembicaraan tentang progress target terbaruku.
Sumber : Divortiare hal. 302

17. Ia tersenyum pahit, tatapan matanya menusuk.
Sumber : Divortiare ha. 309

18. Bukannya sok selebriti, tapi di Perdana gosip apapun akan menyebar luas dengan cepat, lebih cepat daripada virus Ebola.
Sumber :A Very Yuppy Wedding hal. 110

19. Badannya bisa rontok lama-lama kalau dipanggil-panggil tengah malem terus sama rumah sakit.
Sumber : Twivortiare hal. 304

20. Dengan persiapan serba kilat dan jungkir balik.
Sumber : Twivortiare hal. 116

Senin, 28 April 2014

Contoh Majas - part 2 -

1. Tahun Rebutan Kursi.
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

2. Manusia tuna kuasa hanya akan menjadi penyakit bagi bumi
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

3. Rakyat menjadi sasaran empuk saat mereka meraih kuasa
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

4. Rakyat ditinggal bersama kenangan manis recehan rupiah
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

5. Pohon ialah pemompa kehidupan
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

6. Tak ada emas di ujung rotan
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.PERISKOP, hal.14

7. Anak – anak bertelanjang kaki menyusuri jalan tak beraspal
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.PERISKOP, hal.14

8. Memburu hantu Old Trafford
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Olahraga, hal.8

9. Kuda besi si ojek kopi
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Foto pecan ini, hal.12

10. Suguhan “300” yang lebih berdarah
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Hiburan, hal.15

11. Tetangga pencakar langit
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Aku & Rumahku, hal.31

12. Banjir suara dari garasi
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Seni, hal.21

13. Dua mawar tua yang kesepian
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Seni, hal.21

14. Malakama Presiden Baru
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Surat Pembaca, hal.23

15. Panas Demam Partai NASDEM
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

16. PAN terus membuka diri
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

17. Hanura dengan Dua Nahkoda
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

18. PDIP dalam genggaman Megawati
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

19. Harus diakui bahwa SBY selama ini terkesan puasa bicara
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

20. Sementara serangan dari lawan politiknya mengalir deras bagai air bah
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

21. Amunisi yang dipakai untuk menyerang bahkan ada yang bermuatan fitnah
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

Contoh Majas - part 1 -

1.      Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-acungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir.

2.      Saya tidak perlu menutup semua pintu dan tirai serta membuat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna.

3.      Semakin kabur. Semakin dalam muara cinta ini tercebur.

4.      Kala siang dengan durasi waktu yang sangat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang menghimpit. Membuat saya merasa sangat terjepit.

5.      Saya tidak membutuhkan kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala.

6.      Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata.

7.      Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia.

8.      Kala api rindu, sudah semalaman memanggang.

9.      Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak tau harus meraba-raba.

10.  Suara-suara dari luar dunia, seperti suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya.

11.  Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini selain saya.

12.  Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.

13.  Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana.

14.  Hampir menyerupai pasar yang ingar bingar namun tanpa penerangan.

15.  Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat.

16.  Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik.

17.  Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang saya lihat.

18.  Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung.

19.  Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. ...

20.  Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya.


Sumber: http://beningembun-apriliasya.blogspot.com/2010/07/kajian-stilistika-terhadap-cerpen.html

Minggu, 19 Januari 2014

Vihara Dewi Kwan Im


Pemandangan Vihara Dewi Kwan Im atau Vihara Buddhayana atau Kelenteng Burong Mandi

Saat ini kita sedang berada di sebuah tempat bersejarah di Pulau Belitung, yaitu Vihara Dewi Kwan Im. Vihara Dewi Kwan Im ini terletak di Desa Burung Mandi, Kecamatan Kampit, Belitung Timur.


Anak tangga untuk menuju ke Vihara Dewi Kwan Im.
Pada umumnya, bentuk vihara yang juga dikenal dengan Vihara Buddhayana ini tidak berbeda jauh dengan vihara-vihara lain, namun Vihara Dewi Kwan Im merupakan vihara tertua di Belitung. Vihara ini dibangun sejak tahun 1747, sehingga hingga saat ini vihara ini telah berumur 266 tahun.

Vihara yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Kelenteng Burong Mandi ini merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung dan merupakan bukti sejarah adanya peradaban Budha di Pulau Belitung.


Salah satu sudut dari Vihara Buddhayana yang merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung.
Di dalam vihara ini terdapat kolam dimana kita diperbolehkan melempar koin sambil mengucapkan permohonan kita. Kolam ini disebut dengan Kolam Tujuh Bidadari dimana kita dapat meminum airnya karena air di dalam kolam ini berasal dari air sumur yang masih alami, jernih, bersih, dan menyegarkan. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, di dalam sumurnya terdapat seekor naga yang menjaga sumur dan kejernihan serta kekhasiatan airnya.

Tidak jauh dari vihara ini terdapat aliran sungai yang menambah kesejukan dan harmoni di dalam vihara ini. Ada sebuah mitos yang beredar di masyarakt sekitar vihara bahwa air sungai tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menjadikan awet muda, bahkan meminta sesuatu yang diinginkan.

Karena Vihara Buddhayana ini dibangun diatas bukit kecil, dari atas vihara ini kita dapat menikmati pemandangan Pantai Burung Mandi yang letaknya tidak jauh dari vihara. Tak jauh dari vihara ini juga terdapat Pantai Bukit Batu.



Wisata ke Taman Sari - Yogyakarta

Taman Sari tampak depan.


Beginilah sejarah singkat Taman Sari:

Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa setelah Perjanjian Gayatri. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis, seorang arsitek berkebangsaan Portugis, dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter di selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

Begitulah sejarah singkat Taman Sari. Sekarang, let's go to my story! This is my story.

Gapura Panggung di sisi Timur Taman Sari.

Konon katanya, Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana dari atas Gapura Panggung. Bangunan-bangunan di sampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka. Dari Gapura Panggung, kami masuk ke area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa kami. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika kami memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen yang menghiasi periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak di samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk dan kamar pribadi Sultan, di menara yang terdiri dari tiga tingkat ini ada tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun yang melihatnya. Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari dari kolam di bawahnya dan seluruh area Taman Sari terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan dari atas sini, pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatannya dan bunga-bunga yang semerbak mewangi.

Gapura Agung di sisi Barat Taman Sari.

Selepas menikmati pemandangan dari atas menara, kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap dan hening langsung terasa ketika kami masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi dan strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.

Selanjutnya kami akan menuju Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting. Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar dari Tajug, kami melihat bekas dari Pulo Kenongo yang dulunya banyak ditumbuhi bunga kenanga yang menyedapkan Taman Sari. Kami pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauh dari kita terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Sesampainya di tengah masjid yang berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung yang terdengar dari permukiman penduduk di area Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset yang mempesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Puas dengan kesegaran air dari Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan yang indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air yang apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China menjadi nilai yang membuat Taman Sari tak akan terlupakan.

Demi menjaga keaslian dari tempat wisata Taman Sari ini, pengelola Taman Sari membiarkan bangunan-bangunannya apa adanya tanpa ada perubahan warna pada dinding-dindingnya. Pengunjung pun dilarang mandi atau memasuki area kolam yang terisi penuh dengan air jernih. Kami hanya diijinkan sekadar melihat dan mengambil gambar di area tersebut.

Begitulah cerita saya mengenai Taman Sari. Untuk Anda yang berminat mengunjungi Taman Sari, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5000 untuk wisatawan domestik dan Rp 10000 untuk wisatawan mancanegara. Happy Holiday!