Rabu, 04 Juni 2014

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 13

1. MENCELA NASIHAT
2. PINJAM BANK
3. DARAH PANAS
4. TULAR PENYAKIT
5. PELAYAN WARUNG
6. KAKI PERAWAN
7. BACA PIKIRAN
8. SIFAT TERPENDAM
9. BIRO DAGANG
10. PEJABAT TURUN LAPANGAN HADAPI DEMO NASIB BURUK PENDUDUK MALAS
11. RESIKO BOIKOT
12. BLANGKO PERMOHONAN
13. SERIBU SURAT
14. HAMPIR PIRANG
15. OBATI KESEPIAN
16. BINTANG KECIL
17. HORMATI GADIS
18. PERSENTASE TIRUAN
19. BAHAN TULISAN
20. GADIS BISU SUKA MERANGKUL GULING DI RUANG PRIBADI

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 14

1. BERISTRI DUA
2. DENGAR PUJANGGA
3. LURUS HATI
4. BUAYA BUNTUNG
5. KENCING MANIS
6. PETAKA SURAM
7. KUNCI CAKRAM
8. OMBAK TENANG
9. IBUKU PANDAI
10. RONA WAJAH WARTAWAN HIDUNG BELANG TERSIPU MALU JIKA KEDOK TERBUKA
11. SAUDARAKU VOKALIS
12. KESET RUMAH
13. KOPI SAUDAGAR
14. POLISI NAKAL
15. TEKO BENGKOK
16. MANGKOK KOKOH
17. MACAN OMPONG
18. TOPI PANTAI
19. TANGGAL TUA
20. DI LORONG HAMPA NAHKODA HIMBAU KALAU PIPIS TOLONG DISIRAM

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 15

1. JASA MURAH
2. CUCU PANGLIMA
3. ROTI KUKUS
4. TEKANAN BATIN
5. BANGKU SIRKUS
6. USAHA DAHULU
7. ANGKARA MURKA
8. ABSEN TERATUR
9. LUDAHI LAWAN
10. CALON MERTUA MINTA AKU JADI PILOT HANDAL DAN TIDAK MEROKOK
11. KOPI ALAMI
12. KOMPOSISI CAIRAN
13. DILANDA KECEMASAN
14. BANYAK MULUT
15. KOREKSI OTOMATIS
16. MUKA TEMBOK
17. KEJUTAN DUKA
18. INJAK GAS
19. WAKTU BEGADANG
20. LAHAN DUKU GERSANG KARENA ULAH KELICIKAN WARGA KAPITALIS

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 16

1. BALITA BUNGKUK
2. AURA JAHAT
3. PEDANG HALILINTAR
4. MESKI DIABAIKAN
5. KAKUS JOROK
6. KOMANDO PETUALANGAN
7. DAUN SALAM
8. LAHAR PANAS
9. CUMA SEPELE
10. BANDAR EKSTASI MENANGIS MIRIS MERATAPI NASIB YANG PILU
11. FREKUENSI LETUSAN
12. BAYANG ILUSI
13. IMBAS KETAMAKAN
14. MEMBUANG MUKA
15. PECAT KOMISARIS
16. WANITA MENGGIGIL
17. BIODATA WANITA
18. KELIPATAN RATUSAN
19. ASA PASTI
20. WAJAH KUSAM POLISI SIRIK BERDARAH DITABRAK TUKANG BECAK AMATIR

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 17

1. PEDALAMAN DIJELAJAHI
2. DIBORGOL SERDADU
3. GELANGGANG GURUN
4. BAYI TENGKURAP
5. SPONSOR BANK
6. BERSILAT LIDAH
7. PELURUS AKIDAH
8. MAKALAH HUKUM
9. PISAH RANJANG
10. WAHAI KAWAN MARI PANJATKAN DOA SUPAYA RENCANA KITA LANCAR
11. HANTU PENASARAN
12. ALAT BERAT
13. GARIS BAWAH
14. LISTRIK MATI
15. FASE KEMOTERAPI
16. IMIGRAN GELAP
17. CERITA KLIMAKS
18. DATANG BULAN
19. SEDOT WC
20. SUDAH SEPATUTNYA MUKA BERSINAR TERANG JADI DAMBAAN TUKANG RIAS

KUNCI JAWABAN GAME “TEBAK GAMBAR” LEVEL 18

1. RESTO ASING
2. KERTAS LOAK
3. PEMERAH SAPI
4. MATA JELALATAN
5. PUTAR FILM
6. SUPER STAR
7. TELANJANG BULAT
8. BIBIKU MANTRI
9. SERANGAN FAJAR
10. TETANGGA PANJANG TANGAN KEPERGOK NAIK TURUN BAWA SEKOPER PERMATA DI RUMAH KOSONG
11. RINGAN TANGAN
12. LIRIK LAGU
13. MEMALINGKAN DUNIAKU
14. PETIK APEL
15. KERANJINGAN BOLA
16. JAGA SINGGASANA
17. MELATIH NAFAS
18. ISU MIRING
19. ADU DOMBA
20. PARA KETURUNAN SATRIA BAKAR CATATAN DUKUN PELET DALAM BUNGKUSAN KERAMAT

Kritik Artikel “”Bapak Bangsa”” yang ditulis oleh Daoed Joesoef

Menurut Daoed Joesoef dalam tulisannya yang berjudul “”Bapak Bangsa””, suatu negara besar tidak mungkin diurus secara amatiran. Ada alam ide dan ada pula alam praktis. Contoh alam ide adalah adalah universitas. Universitas menjadi contoh alam ide karena manusia berusaha untuk diajak mencari ide-ide kreatif untuk diterapkan di dalam masyarakat. Dalam universitas, mahasiswa sudah tidak lagi diberi materi secara penuh oleh dosen, tapi dosen hanya memberikan materi secara garis besarnya dan mahasiswa yang mencari detail-detailnya. Untuk itu, diperlukan mahasiswa yang kreatif agar mahasiswa tersebut dapat mengikuti kehendak dosen. Contoh alam praktis biasanya berupa komunitas bisnis. Dalam komunitas bisnis, seseorang sudah tidak lagi mencari ide melainkan menerapkannya dalam usaha bisnisnya. Namun, menurut Daoed, kedua alam ide tersebut tidak pantas diterapkan oleh pemerintah. Pemerintah tidak pantas menjadi salah satu dari kedua penampilan alam ide maupun alam praktis. Ide, terutama ide politik, mempunyai konsekuensi dan kontemplasi ide adalah suatu usaha yang betul-betul praktis.
Sebagian orang berpendapat bahwa ide merupakan penyuluh dunia, baik hidup maupun kehidupan, dan sebagian orang yang lain berpendapat bahwa ide sekadar refleksi dari keadaan sesaat masyarakat. Tapi, sebenarnya ide merupakan unsur budaya dan budaya merupakan suatu fakta human yang tidak terpisahkan dari manusianya. Maka dapat disimpulkan bahwa ide adalah bagian dari diri manusia dan tidak ada manusia yang hidup tanpa ide. Setiap manusia memiliki ide dan tidak ada budaya yang tidak mempertanyakan ide.
Sebagai manusia yang akan memimpin manusia-manusia lainnya, sebagian caleg dan capres bermaksud mengadakan perubahan dalam pembangunan ekonomi. Dan berdasarkan pokok-pokok uraian mereka, perubahan yang dimaksud disini adalah mengubah angka pertumbuhan menjadi di atas 5 persen sambil meningkatkan pemerataan. Tapi, cara memicu pertumbuhan masih sama seperti dulu, yaitu melalui konsep pembangunan ekonomi-teknokratis yang sejalan dengan dengan para pemodal internasional, Bank Dunia dan IMF. Sehinggan tidak dapat dipungkiri bahwa kitalah, masyarakat biasa yang menjadi imbasnya. Kehancuran ekologis, polusi, penggundulan hutan dan rayahan sumber daya alam yang terjadi dimana-mana dan dilakukan oleh pebisnis asing. Memang GDP yang menjadi ukuran pertumbuhan mengalami kenaikan, tapi penduduk lokal hanya menjadi “penonton” dan kita sebagai bangsa menjadi debitor besar di pasar modal internasional. Akibatnya, anak cucu kita yang menderita. Bahkan satu detik setelah mereka dilahirkan, mereka telah ikut menanggung hutang yang ditinggalkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa.
Oleh sebab itu, sekaranglah bukanlah saatnya untuk mempertanyakan tentang sistem produktivitas dan efisiensi, melainkan cara/jalan kinerja sistem yang akan menetapkan pertimbangan aksinya sendiri, menentukan alamnya sendiri, independen, dan lepas sama sekali dari kebutuhan rakyat yang hidup dalam alam itu karena ketidaktahuannya. Jadi, dengan “perubahan” di bidang pembangunan ini, di tengah-tengah maraknya kerusakn alam, para caleg dan capres seharusnya menanggapi maksud baiknya sebagai “etika masa depan”, etika yang harus dihayati sekarang untuk dan demi masa depan. Etika inilah yang menjadi pemandu jalannya pembangunan nasional, bukan logika ekonomika pure and simple.

Kritik Artikel “Ihwal Budaya Politik Kita” yang ditulis oleh Masdar Hilmy

Saya setuju dengan pendapat Masdar Hilmy dalam tulisannya yang berjudul “Ihwal Budaya Politik Kita” bahwa para calon anggota legislatif harus menyadari konstelasi politik mutakhir menjadi sesuatu yang imperatif dan mereka bisa belajar dari para senior mereka supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan pendahulunya. Mereka harus melakukan perubahan mendasar di tingkat paradigmatik agar masyarakat mau “membeli” apa yang mereka tawarkan. Jika para calon anggota legislatif mengabaikan pengetahuan ini, dapat dipastikan yang terjadi hanyalah repetisi dan replikasi belaka.
Nampaknya pemilihan umum tahun ini tak ada bedanya dengan pemilihan umum sebelumnya. Peristiwa pemilu kali ini juga tampaknya tidak akan membuat masyarakat memiliki harapan dan optimisme baru. Bahkan mungkin masyarakat semakin tidak memiliki kepercayaan pada para anggota legislatif yang mencalonkan diri. Dibenak mereka pasti masih terbayang-bayang para kader-kader partai politik yang jelas-jelas meneriakkan “Bilang tidak pada korupsi!” tapi justru menjadi tersangka utama dalam kasus-kasus korupsi.
Masyarakat dibuat semakin bingung dengan banyaknya calon-calon anggota legislatif yang ada. Sebagian besar masyarakat bahkan tidak mengenal satupun dari para caleg-caleg tersebut. Alhasil, mereka lebih baik golput atau merusak kertas suara daripada mereka memilih orang yang salah untuk memimpin mereka. Akan tetapi, sekarang ini telah banyak masyarakat yang lebih teliti dalam memilih. Walaupun tidak mengenal satupun dari para caleg-caleg tersebut, mereka tetap menggunakan hak mereka dengan baik. Sebelum hari pemilihan umum, mereka yang memiliki waktu luang akan menyempatkan diri untuk mencari tahu siapa calon-calon legislatif di daerah mereka. Melalui media internet, mereka akan mencari tahu mengenai prestasi-prestasi apa saja yang telah diraih oleh para caleg. Dan berbekal informasi tersebut, mereka akan menentukan pilihan mereka. Tapi, bagi mereka yang tidak memiliki waktu, ada yang memilih berdasarkan gelar kesarjanaannya.
Saat ini sebagian besar masyarakat sudah pandai dalam memilih calon pemimpin mereka. Mereka tidak akan memilih caleg yang berpolitik uang hingga timbul jargon “Terima uangnya, jangan pilih orangnya!” Memang seharusnya begitu. Meskipun di Amerika Serikat tidak mempermasalahkan politik uang, tapi di negara kita, Indonesia. Hal tersebut termasuk pelanggaran hukum dan mereka yang melakukan politik uang akan dijatuhkan sangsi. Tapi walaupun begitu toh masih banyak caleg-caleg yang melakukannya tanpa sepengetahuan pihak yang bertanggung jawab.
Menurut Masdar Hilmy, Indonesia menganut budaya politik neopatrimonialisme, yaitu politik yang berjalan secara formal-struktural. Artinya, terdapat pencampuran antara dominasi patrimonial dan birokrasi legal-rasional (Erdmann & Angel, 2006; 18). Dalam politik neopatrimonialisme, pola ketaatan klien kepada patron seringkali didasarkan pada motif-motif ekonomi dan pragmatisme rasional. Oleh sebab itu, kasus korupsi yang terjadi di era Reformasi ini lebih sulit diuraikan karena melibatkan struktur politik birokrasi yang jauh lebih canggih, rumit, dan substil. Korupsi dilakukan bukan secara individual dan dapat diendus secara individual pula, melainkan secara institusional-struktural.
Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia terjadi karena kurangnya sifat kejujuran dari setiap individu. Hal ini disebabkan karena kita tidak dilatih untuk selalu bersifat jujur dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, guru tidak akan mengambil tindakan bila melihat siswanya mencontek. Guru hanya akan mengingatkan siswanya secara halus sehingga membuat siswanya mencontek berkali-kali. Padahal ada baiknya guru menghukum siswa yang ketahuan mencontek karena setidaknya hal tersebut akan membuat jera siswa sehingga siswa tersebut tidak akan berbuat curang dalam ulangan lagi. Sebagai generasi muda yang diharapkan oleh negara, sebaiknya kita melatih kejujuran sedari dini untuk mengurangi kasus-kasus korupsi di kemudian hari.

Kritik Artikel “Mahasiswa Asing di Amerika Serikat” yang ditulis oleh Gaia Khairina

Setelah membaca artikel yang ditulis oleh Gaia Khairina, saya menjadi lebih tahu mengenai peran mahasiswa asing yang menuntut ilmu di Amerika Serikat. Ternyata mahasiswa asing membawa dampak yang cukup positif bagi mahasiswa lokal. Mahasiswa lokal berpendapat bahwa keberadaan mahasiswa asing memberi warna dalam kehidupan mereka. Dengan adanya mahasiswa asing, mereka menjadi lebih terbuka pada berbagai kelompok etnis. Mahasiswa asing juga mempermudah mahasiswa lokal dalam mempelajari budaya yang dibawa oleh mahasiswa asing. Contohnya, saat seorang mahasiswa Amerika yang bernama Goldstein berencana magang di Bangladesh. Ia mempelajari budaya-budaya masyarakat Bangladesh melalui temannya yang berasal dari Bangladesh. Bahkan menurutnya, temannya tersebut memperkenalkan kehidupan masyarakat Bangladesh dengan lebih nyata daripada bila ia membacanya buku panduan wisata.
Namun sayangnya, pendapat tersebut hanyalah pendapat mahasiswa lokal saja. Menurut Gaia, masih ada sebagian mahasiswa asing yang hanya bergaul dengan mahasiswa yang satu bahasa dengannya. Misalnya, mahasiswa yang berasal dari Indonesia hanya mau dan ingin bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Hal tersebut terjadi karena ketidakfasihan mahasiswa asing dalam berbahasa Inggris. Padahal sebenarnya mahasiswa lokal tidak mempunyai masalah apabila mahasiswa asing belum lancar berbahasa Inggris. Menurut mereka, justru seharusnya mahasiswa asing lebih banyak bergaul dengan mahasiswa lokal agar memperlancar bahasa Inggris mereka.
Tak hanya kendala bahasa, mahasiswa asing di Amerika Serikat juga tidak percaya diri. Menurut Gaia, hal tersebut terjadi karena pada umumnya mereka merasa kesepian dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana, yang berbeda dengan kehidupan di negara asal masing-masing.
Gaia Khairina, seorang mahasiswa S-1 jurusan Environmental Science di Clark University, mempunyai solusi untuk permasalahan-permasalahan yang dialami oleh mahasiswa asing di Amerika Serikat. Mereka hanya perlu mengikuti kegiatan-kegiatan kampus di luar kelas agar mereka tidak kesepian sekaligus untuk memperlancar bahasa Inggris mereka. Mahasiswa asing tidak seharusnya merasa rendah diri karena hal tersebut hanya akan memperburuk citra mereka di hadapan mahasiswa lokal sebagai mahasiswa asing.

Kritik Artikel “Agama dan Pemilu” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat

Saya sependapat dengan Komaruddin Hidayat yang mengatakan bahwa pengaruh keagamaan, terutama agama mayoritas yaitu agama Islam, masih sangat kuat di setiap pemilihan umum di Indonesia. Masyarakat masih berpendapat bahwa pemimpin kita haruslah orang yang beragama Islam. Mereka lupa bahwa negara Indonesia bukanlah negara agama. Dalam syarat-syarat menjadi Presiden dan Wakil Presiden pun tidak mengharuskan capres dan cawapresnya adalah orang yang beragama Islam.
Meskipun benar bahwa kepemimpinan yang baik haruslah dengan pemimpin yang baik juga. Dalam konsep Islam, kepemimpinan yang amanah akan terwujud bila pemimpinnya juga amanah. Maksudnya adalah untuk mewujudkan negara yang sesuai dengan konsep Islami, harus diimbangi dengan pemimpin yang berasal dari agama Islam pula. Tapi apakah itu sesuai dengan negara Indonesia yang berpenduduk dengan berbagai agama? Apakah itu adil bagi mereka yang berasal dari agama minoritas? Sempat timbul pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik kita mempunyai pemimpin yang bukan beragama Islam tapi memimpin dengan bijak daripada pemimpin yang beragama Islam tapi pelaku korupsi. Pendapat tersebut disanggah oleh seorang mu’alaf yang sekarang aktif berdakwah, yang dikenal dengan nama Ustadz Felix Shiaw. Beliau berpendapat bahwa tidak ada hal yang lebih baik dalam hal keburukan. Menurut beliau pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik memiliki pemimpin yang berbeda agama dengan kepemimpinan yang bijak tidaklah benar. Baiknya adalah pemimpinan yang seagama dengan sistem kepemimpinan yang amanah.
Sebenarnya saya juga sependapat denganpendapat Ustadz Felix. Oleh karenanya, kita membutuhkan calon-calon pemimpin yang benar-benar taat pada agama. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak orang yang benar-benar beragama Islam yang mencalonkan diri sebagai pemimpin yang benar-benar amanah? Memang pasti ada, tapi mereka pasti hanya segelintir orang dari sekian banyak calon. Dan karena mereka benar-benar orang yang beragama, mereka juga pasti akan melakukan kampanye sesuai dengan syariat agama. Dengan kata lain, mereka pasti tidak akan menghambur-hamburkan berjuta-juta uang hanya untuk kampanye sehingga membuat mereka tidak terlihat oleh masyarakat karena kurangnya aktivitas kampanye. Bahkan mungkin hanya orang–orang terdekatnya saja yang tahu bahwa ada pemimpin amanah yang sedang memperjuangkan niatnya. Kepopuleran mereka tertutupi oleh calon-calon lain yang arogan dan serakah pada kekuasaan hingga akhirnya calon pemimpin yang amanah tadi tersingkir dengan sendirinya.
Bukan hal aneh lagi bagi kita bila ada orang yang benar-benar baik tersingkir atau kalah oleh orang-orang jahat. Bahkan boleh jadi orang-orang baik yang tak bersalah menjadi kambing hitam atas kesalahan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Menurut saya, tak ada salahnya bila mereka yang berbeda agama menjadi pemimpin di Indonesia selama mereka menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan konsep Islami. Selama mereka tetap menghormati keberadaan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia. Selama mereka mampu menciptakan kedamaian serta kerukunan antarumat beragama serta tidak menganaktirikan agama Islam.