Minggu, 04 Mei 2014

Contoh Majas - part 4 -

1. Bintang lingkungan.
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 7

2. Mata orang itu tampak mengejek.
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 11

3. Berdarah panas
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 12

4. Birokrat kelas teri
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 12

5. Jantungnya seperti diremas tangan besi
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 14

6. Air mata mengalir di wajahnya seperti air terjun Niagara
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 20

7. Hidungnya semerah tomat
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 20

8. Ekspresinya sama mengancamnya dengan pisau daging yang dipegangnya
Sumber: Ross, JoAnn.1999.I do, I do . . . For Now.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 21

9. Naik daun
Sumber: Tabloid TV Remaja Gaul. Edisi 37. Tahun VIII. Megan Fox Pengen Punya Pacar yang Sopan

10. Badai mencakari kamarnya
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 387

11. Pohon-pohon bergoyang seperti kapal di laut
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 387

12. Di matanya yang sebiru tengah malam
Sumber: Paolini, Christopher. 2009. Eldest. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 523

13. Pikiran itu kaya parasut
Sumber: https://mobile.twitter.com/frandevias/status/444679029526773760?screen_name=frandevias

14. Rivaldo putuskan gantung sepatu
Sumber: http://bola.viva.co.id/news/read/488903-usai-24-tahun-berkarier--rivaldo-putuskan-gantung-sepatu

15. Diserang rasa pusing luar biasa
Sumber: Triwikromo, Triyanto. Cerpen: Dongeng New York Miring untuk Aimee Roux. Kompas, Minggu, 16 Maret 2014. Hal. 20

16. Kata-kata yang kedengaran seperti dengung lebah itu
Sumber: Triwikromo, Triyanto. Cerpen: Dongeng New York Miring untuk Aimee Roux. Kompas, Minggu, 16 Maret 2014. Hal. 20

17. Ruhut: Hubungan SBY dan Megawati akan segera mencair
Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2014/04/27/1428010/Ruhut.Hubungan.SBY.dan.Megawati.Akan.Segera.Mencair

18. Sebagai kota pusat administrasi dan ekonomi terpenting, gerak napas budayanya pun berkembang subur.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 8

19. Sejak saat itulah roda kehidupannya berubah.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 11

20. Ia berdarah pribumi.
Sumber: Jessica, Agnes. 2009. Sang Maharani. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 195

Contoh Majas - part 3 -

1. Pencarian sosok pemimpin ideal "berlayar" sampai ke kerajaan Kalingga pada abad ketujuh.
Sumber: Kompas, Minggu, 9 Maret 2014

2. Aku tidak perlu jadi pria sejati, cukup menjadi pria dengan posisi tawar tinggi.
Sumber: Touche Alchemist hal. 106

3. Punggung gunung yang berselimut debu selama musim panas terbilas bersih oleh hujan yang berlangsung beberapa hari.
Sumber : Norwegian Wood hal. 3

4. Lalu barangkali sebentar kemudian tertelan oleh kegelapan malam.
Sumber : Norwegian Wood hal. 5

5. Tetapi jika hal itu kulakukan sudah pasti akan terjadi keributan bagai membuka pintu neraka.
Sumber : Norwegian Wood hal. 30

6. Memiliki ayah seorang fotografer majalah Vogue dan ibu seorang sutradara opera membuat darah seni mengalir deras dalam dirinya.
Sumber : Majalah Gadis edisi XLI

7. Gue, Harris Rijad, gak banci, kan, kalau bilang detik ini rasanya jantung gue mau loncat keluar dari dada ini?
Sumber : Antologi Rasa hal. 231

8. Alien di planet pluto aja bisa melihat betapa Keara itu cinta sama Ruly, tapi dia masih aja buta seperti sekarang.
Sumber : Antologi Rasa hal. 270

9. Orang-orang tanpa otak yang memenuhi lift kantor dengan jaket yang baunya seperti sudah tidak dicuci sejak jaman dinosaurus masih beol di planet bumi.
Sumber : Antologi Rasa hal. 277

10. Kalau Raul atau Enzo atau Panji, aku tidak perlu menceritakan mereka akan ngapain, tapi yang jelas tidak akan hanya duduk diam layaknya stupa seperti kamu sekarang.
Sumber : Antologi Rasa hal. 307

11. Wajahnya setenang danau di musim dingin.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 64

12. Matanya mengembara keluar ruang duduk.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 64

13. Antrean di depan pintu masuk gereja itu sangat panjang, mengular sampai ke jalan di sebelah gereja.
Sumber : Barcelona Te Amo hal. 129

14. Kesamaan itu justru menjadi pemecah, ibarat magnet berkutub sama yang akan selalu tolak-menolak.
Sumber : Divortiare hal. 61

15. Aku cuma bisa menghindari tatapannya yang tajam.
Sumber : Divortiare hal. 227

16. Diruang rapat, aku mencoba terhanyut dengan pembicaraan tentang progress target terbaruku.
Sumber : Divortiare hal. 302

17. Ia tersenyum pahit, tatapan matanya menusuk.
Sumber : Divortiare ha. 309

18. Bukannya sok selebriti, tapi di Perdana gosip apapun akan menyebar luas dengan cepat, lebih cepat daripada virus Ebola.
Sumber :A Very Yuppy Wedding hal. 110

19. Badannya bisa rontok lama-lama kalau dipanggil-panggil tengah malem terus sama rumah sakit.
Sumber : Twivortiare hal. 304

20. Dengan persiapan serba kilat dan jungkir balik.
Sumber : Twivortiare hal. 116

Senin, 28 April 2014

Contoh Majas - part 2 -

1. Tahun Rebutan Kursi.
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

2. Manusia tuna kuasa hanya akan menjadi penyakit bagi bumi
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

3. Rakyat menjadi sasaran empuk saat mereka meraih kuasa
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

4. Rakyat ditinggal bersama kenangan manis recehan rupiah
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

5. Pohon ialah pemompa kehidupan
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.Budaya, hal.9

6. Tak ada emas di ujung rotan
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.PERISKOP, hal.14

7. Anak – anak bertelanjang kaki menyusuri jalan tak beraspal
Sumber: Koran Sindo, (16 Maret 2014), kolom.PERISKOP, hal.14

8. Memburu hantu Old Trafford
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Olahraga, hal.8

9. Kuda besi si ojek kopi
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Foto pecan ini, hal.12

10. Suguhan “300” yang lebih berdarah
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Hiburan, hal.15

11. Tetangga pencakar langit
Sumber: KOMPAS, (16 Maret 2014), kolom.Aku & Rumahku, hal.31

12. Banjir suara dari garasi
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Seni, hal.21

13. Dua mawar tua yang kesepian
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Seni, hal.21

14. Malakama Presiden Baru
Sumber: KOMPAS, (30 Maret 2014), Kolom.Surat Pembaca, hal.23

15. Panas Demam Partai NASDEM
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

16. PAN terus membuka diri
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

17. Hanura dengan Dua Nahkoda
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

18. PDIP dalam genggaman Megawati
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

19. Harus diakui bahwa SBY selama ini terkesan puasa bicara
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

20. Sementara serangan dari lawan politiknya mengalir deras bagai air bah
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

21. Amunisi yang dipakai untuk menyerang bahkan ada yang bermuatan fitnah
Sumber: Jurnal Nasional, (April 2014), Kolom.Peta Pemilu, hal.8

Contoh Majas - part 1 -

1.      Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-acungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir.

2.      Saya tidak perlu menutup semua pintu dan tirai serta membuat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna.

3.      Semakin kabur. Semakin dalam muara cinta ini tercebur.

4.      Kala siang dengan durasi waktu yang sangat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang menghimpit. Membuat saya merasa sangat terjepit.

5.      Saya tidak membutuhkan kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala.

6.      Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata.

7.      Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia.

8.      Kala api rindu, sudah semalaman memanggang.

9.      Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak tau harus meraba-raba.

10.  Suara-suara dari luar dunia, seperti suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya.

11.  Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini selain saya.

12.  Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.

13.  Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana.

14.  Hampir menyerupai pasar yang ingar bingar namun tanpa penerangan.

15.  Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat.

16.  Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik.

17.  Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang saya lihat.

18.  Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung.

19.  Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. ...

20.  Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya.


Sumber: http://beningembun-apriliasya.blogspot.com/2010/07/kajian-stilistika-terhadap-cerpen.html

Minggu, 19 Januari 2014

Vihara Dewi Kwan Im


Pemandangan Vihara Dewi Kwan Im atau Vihara Buddhayana atau Kelenteng Burong Mandi

Saat ini kita sedang berada di sebuah tempat bersejarah di Pulau Belitung, yaitu Vihara Dewi Kwan Im. Vihara Dewi Kwan Im ini terletak di Desa Burung Mandi, Kecamatan Kampit, Belitung Timur.


Anak tangga untuk menuju ke Vihara Dewi Kwan Im.
Pada umumnya, bentuk vihara yang juga dikenal dengan Vihara Buddhayana ini tidak berbeda jauh dengan vihara-vihara lain, namun Vihara Dewi Kwan Im merupakan vihara tertua di Belitung. Vihara ini dibangun sejak tahun 1747, sehingga hingga saat ini vihara ini telah berumur 266 tahun.

Vihara yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Kelenteng Burong Mandi ini merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung dan merupakan bukti sejarah adanya peradaban Budha di Pulau Belitung.


Salah satu sudut dari Vihara Buddhayana yang merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung.
Di dalam vihara ini terdapat kolam dimana kita diperbolehkan melempar koin sambil mengucapkan permohonan kita. Kolam ini disebut dengan Kolam Tujuh Bidadari dimana kita dapat meminum airnya karena air di dalam kolam ini berasal dari air sumur yang masih alami, jernih, bersih, dan menyegarkan. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, di dalam sumurnya terdapat seekor naga yang menjaga sumur dan kejernihan serta kekhasiatan airnya.

Tidak jauh dari vihara ini terdapat aliran sungai yang menambah kesejukan dan harmoni di dalam vihara ini. Ada sebuah mitos yang beredar di masyarakt sekitar vihara bahwa air sungai tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menjadikan awet muda, bahkan meminta sesuatu yang diinginkan.

Karena Vihara Buddhayana ini dibangun diatas bukit kecil, dari atas vihara ini kita dapat menikmati pemandangan Pantai Burung Mandi yang letaknya tidak jauh dari vihara. Tak jauh dari vihara ini juga terdapat Pantai Bukit Batu.



Wisata ke Taman Sari - Yogyakarta

Taman Sari tampak depan.


Beginilah sejarah singkat Taman Sari:

Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa setelah Perjanjian Gayatri. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis, seorang arsitek berkebangsaan Portugis, dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter di selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

Begitulah sejarah singkat Taman Sari. Sekarang, let's go to my story! This is my story.

Gapura Panggung di sisi Timur Taman Sari.

Konon katanya, Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana dari atas Gapura Panggung. Bangunan-bangunan di sampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka. Dari Gapura Panggung, kami masuk ke area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa kami. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika kami memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen yang menghiasi periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak di samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk dan kamar pribadi Sultan, di menara yang terdiri dari tiga tingkat ini ada tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun yang melihatnya. Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari dari kolam di bawahnya dan seluruh area Taman Sari terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan dari atas sini, pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatannya dan bunga-bunga yang semerbak mewangi.

Gapura Agung di sisi Barat Taman Sari.

Selepas menikmati pemandangan dari atas menara, kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap dan hening langsung terasa ketika kami masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi dan strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.

Selanjutnya kami akan menuju Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting. Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar dari Tajug, kami melihat bekas dari Pulo Kenongo yang dulunya banyak ditumbuhi bunga kenanga yang menyedapkan Taman Sari. Kami pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauh dari kita terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Sesampainya di tengah masjid yang berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung yang terdengar dari permukiman penduduk di area Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset yang mempesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Puas dengan kesegaran air dari Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan yang indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air yang apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China menjadi nilai yang membuat Taman Sari tak akan terlupakan.

Demi menjaga keaslian dari tempat wisata Taman Sari ini, pengelola Taman Sari membiarkan bangunan-bangunannya apa adanya tanpa ada perubahan warna pada dinding-dindingnya. Pengunjung pun dilarang mandi atau memasuki area kolam yang terisi penuh dengan air jernih. Kami hanya diijinkan sekadar melihat dan mengambil gambar di area tersebut.

Begitulah cerita saya mengenai Taman Sari. Untuk Anda yang berminat mengunjungi Taman Sari, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5000 untuk wisatawan domestik dan Rp 10000 untuk wisatawan mancanegara. Happy Holiday!

Minggu, 17 November 2013

Tulisan FEATURE

Meriahnya Bedah Buku dan Bedah Film
“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”

Para pengisi acara (dari kiri): Bunda, Geisha Shandy, Herjunot Ali, Fia (pembawa acara), Dani, dan Naila Fauzia Hamka.

Dengan mengangkat tema “Dive The Book, Dive The World”, Ikatan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UI mengadakan serentetan acara yang diadakan mulai hari Rabu, 6 November 2013 hingga 8 November 2013. Salah satu dari sekian rangkaian acara yang diadakan adalah acara Bedah Buku dan Roadshow Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Acara tersebut diselenggarakan pada hari kedua, yaitu hari Kamis, 7 November 2013 di Gedung 9 FIB UI pukul 13.00 sampai 16.00. Untuk memeriahkan acara bedah buku dan roadshow film tersebut pihak panitia mengundang beberapa pihak yang terkait dengan buku dan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, diantaranya Naila Fauzia Hamka sebagai cucu dari penulis buku (Alm. Buya Hamka), Dani sebagai perwakilan Balai Pustaka, penerbit buku, dan Herjunot Ali dan Geisha Shandy sebagai pemeran utama dan pembantu dalam film yang berjudul sama dengan bukunya.

Walaupun acara yang menghadirkan Herjunot Ali ini akan dimulai pada pukul 13.00 dan open gate akan dilakukan pada pukul 12.30, para partisipan acara telah mengular di depan pintu ruang acara pada pukul 12.00. Sebagian besar dari mereka mengaku menghadiri acara ini bukan karena acara bedah bukunya melainkan karena akan hadirnya Herjunot Ali. Bahkan ada salah satu partisipan yang berseloroh akan membakar gedung FIB UI ini jika seandainya Herjunot Ali batal menghadiri acara yang terbuka untuk umum ini.

Detik-detik menjelang pintu ruang acara akan dilakukan, para partisipan saling berebut untuk memasuki ruang acara tanpa dikomando. Bahkan ketika pintu belum sempurna terbuka, mereka telah memaksa masuk. Alhasil, para panitia yang bertugas dalam open gate ini hanya bisa pasrah menghadapi puluhan remaja yang masuk dan membanjiri ruang acara dengan seketika. Mereka yang telah berhasil masuk dengan segera memilih spot yang tepat untuk mereka tempati. Menit demi menit, ruang acara telah disesaki oleh puluhan remaja dan beberapa diantaranya laki-laki. Tepat pukul 1, pembawa acara menaiki panggung dan mulai memimpin acara.

Sebagai permulaan, Naila Fauzia Hamka dan Dani menjadi pembicara yang membicarakan tentang buku karangan Buya Hamka tersebut. Para partisipan menanyakan beberapa pertanyaan dan Ibu Naila serta Bapak Dani menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hingga ketika sang pembawa acara memanggil para pemain film yang diadaptasi oleh novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, para partisipan mulai menjerit-jerit histeris terutama saat nama Herjunot Ali disebutkan. Ditambah lagi saat melihat sosok tinggi, putih itu, para partisipan yang didominasi oleh remaja perempuan ini kembali menjerit histeris dan jeritan kali ini lebih memekakkan telinga daripada jeritan-jeritan sebelumnya. Saat aktor muda tersebut menempati tempat duduknya, ruang acara menjadi lebih terkendali. Namun, suara-suara jeritan kekaguman kembali terdengar tatkala sang aktor berdiri untuk menceritakan pengalamannya selama memerankan pemeran utama, Zainudin, dalam film yang akan tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia tanggal 19 Desember nanti.

Hampir sepanjang acara, suara jejeritan para gadis remaja terus membahana di ruang acara. Bahkan saat beberapa partisipan yang tunjuk tangan dan beruntung naik ke atas panggung, jeritan kembali membahana. Bisa dipastikan jeritan kali ini berasal dari mereka yang tidak beruntung naik ke panggung untuk sekadar berjabat tangan atau berfoto dengan Herjunot Ali. Hingga pukul 15.30, Herjunot Ali dan Geisha Shandy yang berperan sebagai Khadijah sibuk menjawab pertanyaan. Dan acara pun diakhiri dengan pemberian kaus, poster dan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh Junot, sapaan akrab Herjunot Ali, dan Geisha pada mereka yang beruntung tanpa memberikan pertanyaan.

Acara pun selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan, yaitu pukul 15.30. Para partisipan segera berhamburan keluar. Beberapa diantara mereka ada yang segera menuju pintu keluar backstage guna mengadu keberuntungan bertemu dengan Junot diluar acara dan meminta foto bersama. Namun, mereka harus gigit jari karena tidak bertemu dengan sang aktor sesuai dengan keinginan mereka.

Tulisan NEWS

Idul Adha, Stasiun Pondok Cina Sepi
Suasana stasiun Pondok Cina saat Hari Raya Idul Adha, Selasa, 15 Oktober 2013.
Selasa, 15 Oktober 2013 merupakan Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam. Dalam rangka merayakan hari raya umat Islam yang terjadi setahun sekali tersebut, sebagian besar perusahaan-perusahaan meliburkan para karyawannya. Hal itu menyebabkan berkurangnya pengguna kendaraan umum, terutama KRL Commuter Line Jabodetabek. Hal tersebut terbukti dengan sepinya stasiun Pondok Cina, Depok dari pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek.
Sekitar pukul 10.00 WIB, stasiun Pondok Cina masih sepi dari pengguna kereta padahal pada hari-hari biasa dan pada jam yang sama pengguna KRL Commuter Line tidak sesepi hari ini. Bahkan tempat parkir kendaraan motor dan mobil di stasiun Pondok Cina pun tidak sepenuh pada hari-hari biasa. Jika pada hari biasa tempat parkir kendaraan motor dan mobil selalu penuh, hari ini hanya separo dari luas tempat parkir yang digunakan.
Tidak berbeda jauh dengan keadaan tempat parkir yang sepi dari kendaraan-kendaraan pribadi, peron stasiun Pondok Cina tidak sepadat hari-hari lainnya. Hanya ada segelintir orang yang duduk dan menunggu datangnya kereta. Beberapa diantara mereka hendak bekerja karena kebijakan perusahaan mereka yang tidak meliburkan karyawannya. Dan beberapa lainnya akan bersilaturahim ke rumah saudara-saudara mereka di sekitar wilayah Jabodetabek.
Hal yang sama juga terjadi di dalam KRL Commuter Line Jabodetabek. Kita bahkan bisa memilih tempat duduk dimanapun kita suka dikarenakan sedikitnya penumpang KRL. Bahkan ada anak-anak yang asyik berlarian bersama teman-temannya di sepanjang gerbong kereta.

Tulisan INVESTIGASI

Pelayanan Apakah yang Paling Diminati oleh Pelanggan Salon Wanita di Kampung Gedong, Beji, Depok?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya melakukan pengamatan pada salah satu salon khusus wanita yang berlokasi di Kampung Gedong, Beji, Depok selama 10 hari mulai tanggal 6 November 2013 hingga 15 November 2013. Hasil pengamatannya adalah sebagai berikut:

Hari 1
Pelanggan yang datang ke Salon Wanita sebanyak 3 orang dan ketiganya ingin dipijat tradisional dan atau lulur. Pelanggan pertama dipijat tradisional sekitar pukul 12.30. Pelanggan kedua dipijat tradisional sekitar pukul 16.00 dan pelanggan terakhir di pijat dan lulur pada pukul 19.30.

Hari 2
Ada 2 pelanggan yang datang ke Salon Wanita dengan pelayanan yang berbeda. Yang pertama datang sekitar pukul 10.00 untuk dipijat dan lulur. Pelanggan kedua datang sekitar pukul 14.00 untuk di creambath.

Hari 3
Hanya ada 1 pelanggan yang datang dan ingin dipotongkan rambutnya.

Hari 4
1 pelanggan ingin dipijat dan lulur.

Hari 5
1 pelanggan dengan pelayanan pijat dan lulur.

Hari 6
1 orang pelanggan yang ingin dipijat dan lulur.

Hari 7
Seorang pelanggan dengan pelayanan pijat dan lulur.

Hari 8
Terdapat 2 orang yang datang ke Salon Wanita. Pelanggan pertama datang untuk dipijat dan lulur. Pelanggan kedua datang untuk dipijat dan lulur serta creambath.

Hari 9
Tidak ada pelanggan datang.

Hari 10
Tidak ada pelanggan.

Dari hasil pengamatan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelayanan yang paling diminati oleh pelanggan Salon Wanita adalah pijat tradisional dan atau lulur. Hal itu terbukti dengan selama pengamatan berlangsung, yaitu 10 hari, lebih banyak pelanggan yang meminta dipijat dan dilulur, yaitu sebanyak 10 orang. Sedangkan pelanggan yang di creambath hanya ada 2 orang dan pelanggan yang dipotong rambutnya ada 1 orang.

Mengetahui hasil pengamatan ini, saya melakukan sedikit wawancara dengan salah seorang pelanggan pijat dan lulur di Salon Wanita. Dian (35 tahun) mengatakan bahwa pijatan Ibu Juju, karyawan di salon miliknya sendiri, tidak seperti pijatan salon, tetapi seperti pijatan yang memang dikhususkan untuk pengobatan.

Rabu, 16 Oktober 2013

Tulisan OPINI

Kecelakaan Tol Jagorawi: Siapa yang patut disalahkan?

Tol Jagorawi KM 8 pasca kecelakaan.

Minggu, 8 September 2013 sekitar pukul 00.45 WIB, Abdul Qadir Jaelani, salah seorang anak musisi ternama Ahmad Dhani, mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi. Dul, sapaan karib Abdul Qadir Jaelani, mengalami kecelakaan sepulangnya mengantar kekasihnya, yang akrab disapa Karin, di daerah Cibubur. Diduga mobil Lancer B 80 SAL yang dikendarai Dul melaju dengan kecepatan 176 km/jam pada dua detik sebelum kecelakaan terjadi. Mobil tersebut melayang ke arah jalur yang berlawanan dan menabrak mobil Gran Max B 1349 TFN dan Avanza B 1882 UZJ. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 15 korban jiwa, 7 diantaranya meninggal dunia dan 8 korban lainnya, termasuk Dul, mengalami luka-luka dan di rawat di Rumah Sakit. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, polisi pun menetapkan Dul, yang masih dibawah umur, sebagai tersangka.

Penetapan Dul sebagai tersangka pun menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa kecelakaan tersebut merupakan kesalahan dari pihak orang tua yang lalai dalam menjaga anaknya, dan beberapa berpendapat bahwa kecelakaan tersebut merupakan murni sebuah kecelakaan dan tidak ada pihak yang patut disalahkan. Namun menurut pendapat saya pribadi, kecelakaan tersebut adalah akibat dari kelalaian orang tua.

Seperti yang kita tahu bahwa kedua orang tua Dul, Ahmad Dhani dan Maia Estianti, telah lama berpisah dan ketiga anak-anak mereka – Al, El, Dul – tinggal bersama sang Ayah, Ahmad Dhani. Menurut saya, Ahmad Dhani sebagai orang tua telah lalai dalam menjaga Dul. Terbukti bahwa, pada usianya yang masih 13 tahun Dul sudah bisa mengendarai mobil tanpa sepengetahuan sang Ayah. Ahmad Dhani telah menegaskan bahwa ia telah memberikan sebuah mobil untuk setiap anak-anaknya lengkap dengan sopir pribadi. Tapi kenyataannya, Dul mengendarai mobil kakaknya, Al, pada dini hari tanpa bantuan sang sopir pribadi. Selain Ahmad Dhani, pihak-pihak yang menurut saya patut disalahkan adalah keluarga terdekat Dul yang mengetahui Dul bisa mengendarai mobil lantas membiarkannya mengendarai mobil melewati jalan tol. Dalam wawancaranya, Al, kakak Dul mengakui bahwa dirinya mengetahui Dul hendak mengantar kekasihnya dengan mobil Lancernya. Alasan Al mengijinkan Dul mengendarai mobilnya karena diperkirakan pada dini hari itu tidak ada polisi yang sedang melakukan razia, sehingga kemungkinan Dul untuk tertangkap polisi sangat kecil.

Jadi, menurut saya dalam kecelakaan Tol Jagorawi ini, pihak yang patut disalahkan adalah orang-orang terdekat Dul yang mengetahui Dul bisa mengendarai mobil lantas membiarkannya mengendarai mobil di jalan raya padahal usianya belum genap 17 tahun.