Selasa, 13 Mei 2014

Kritik Artikel “Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar” yang ditulis oleh Rhenald Kasali

Menurut Rhenald Kasali dalam artikelnya yang berjudul “Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar”, beliau berpendapat bahwa setiap bangsa mempunyai pilihan, yaitu melahirkan atlet bermedali emas atau perenang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah. Maksud dari perumpamaan beliau diatas adalah setiap pemerintahan berhak menentukan bagaimana sistem pendidikan akan diterapkan di negaranya. Apakah pendidikan yang akan melahirkan perenang yang tak pernah menyentuh air (pendidikan yang hanya terpusat pada teori tanpa ada praktek) atau pendidikan yang melahirkan atlet bermedali emas (pendidikan yang tidak hanya terpusat pada teori tapi juga pada praktek di lapangan).
Sistem pendidikan yang diterapkan oleh suatu negara akan menentukan masa depan generasi selanjutnya. Negara yang menerapkan pendidikan yang terpusat pada praktek dan teori akan mempermudah generasi-generasi mudanya dalam menghadapi realitas kehidupan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah karena mereka telah dibekali ilmu terapan yang lebih berguna di masyarakat. Sebaliknya, negara yang hanya menerapkan ilmu dasar atau teorinya saja tanpa menerapkan prakteknya di lapangan akan mempersulit generasi-generasi muda dalam menghadapi kenyataan hidup. Mereka juga akan sulit membaur dengan masyarakat karena mereka tidak pernah dibekali pengalaman dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di sekolah.
Sayangnya, pendidikan yang masih terpaku pada ilmu dasar atau teori masih diterapkan di negara kita, Indonesia. Para siswa hanya dibekali teori-teori tanpa melakukan prakteknya. Contohnya, di Fakultas Sastra jurusan Sastra Inggris di Universitas Gunadarma, mahasiswa mendapatmata kuliah Pariwisata, tetapi mahasiswa hanya diberi teori tentang bagaimana menjadi seorang pemandu wisata yang baik tanpa mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkannya secara langsung. Hal ini sangat disayangkan baik oleh dosen yang mengampu mata kuliah tersebut maupun oleh mahasiswanya karena menurut mereka akan sangat baik bila mahasiswa jugga diberi kesempatan untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Selain itu, tugas-tugas mahasiswa hanya berkisar pada pembuatan makalah atau mengerjakan soal pilihan ganda. Sangat jarang sekali mereka diberi tugas berupa memberikan pendapat mengenai suatu peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Padahal masa kuliah adalah masa yang paling penting bagi setiap individu untuk dapat memecahkan suatu masalah dengan memberikan pendapat mereka.
Selain karena pemerintah yang masih menerapkan ilmu dasar yang berupa teori, hal ini juga didukung oleh tenaga pengajar yang selalu memberikan soal-soal berupa soal pilihan ganda atau tugas yang berupa penyusunan makalah. Sangat jarang sekali ada guru atau dosen yang mengajak mahasiswanya untuk berdiskusi atau berdebat secara ilmiah atau memberikan pendapat mereka mengenai suatu peristiwa. Sebagian besar guru atau dosen hanya memberikan teori-teori yang sudah jelas tertulis dalam buku mereka. Guru atau dosen hanya mengulang setiap kata-kata yang tertulis dalam buku. Dan pada saat ujian, guru atau dosen memberikan soal berupa pilihan ganda dimana siswa atau mahasiswanya diharuskan untuk menjawab antara yang benar atau salah. Meskipun metode pengajaran yang seperti itu jelas-jelas tidak menambah pengetahuan mahasiswa, toh pada kenyataannya masih digunakan oleh sebagian besar tenaga pengajar yang ada. Padahal salah satu metode pengajaran yang baik adalah dengan menerapkan ilmu yang tidak mengharuskan mahasiswanya untuk menghafal tapi mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan dan perencanaan eksekusi). Pendidikan yang didominasi oleh budaya ilmu dasar yang terpusat pada serba kertas dan teori dan mengabaikan penerapannya yang membuat para sarjana Indonesia tidak siap pakai.
Semoga saja pemerintah kita segera menyadari kekurangan sistem pendidikan di negara kita dan segera mengubah sistem pendidikan dari yang hanya berkutat pada buku dan kertas menjadi sistem pendidikan yang tidak lagi mengabaikan penerapan dari apa yang telah dipelajari oleh siswa dan mahasiswanya agar mereka menjadi generasi muda yang siap pakai di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar