Berdasarkan artikel “Rantau Intelektual Berawal dari Surau” yang ditulis oleh Dodi Wisnu Pribadi, banyak intelektual yang berasal dari Minangkabau. Disebutkan bahwa para intelektual perantauan tersebut telah pintar berbicara dan memimpin sejak mereka mengikuti setiap pengajian di surau-surau di masa kanak-kanak. Ternyata kebiasaan mereka itu merupakan kebiasaan adat dasar yang diwariskan kepada generasi muda Minang selanjutnya.
Menurut Muchtar Naim dalam bukunya yang berjudul “Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau”, kehadiran lembaga pendidikan, seperti Kweek School yang berdiri pada 1 April 1856 si Bukittinggi, Sumbar, sangat menentukan mulai dikenalnya pendidikan modern di Bukittinggi. Seperti yang kita tahu, Bukittinggi merupakan kampung halaman Wakil Presiden pertama kita, Mohammad Hatta.
Tokoh-tokoh terkenal seperti Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, Hamka, Sutan Sjahrir, Rasuna Said dan Tan Malaka, serta wartawan Karni Ilyas adalah orang-orang yang berasal dari Minangkabau yang kini menyebar dan dikenal secara nasional karena keintelektualannya serta sikap dan cara pandang hingga aktivitas mereka di tanah rantau di Ibu Kota. Mereka adalah orang-orang Minangkabau yang sukses dibidangnya masing-masing di ranah perantauan dan bukan di ranah Minang sendiri.
Semakin jelas sekarang bahwa tak semua orang-orang perantauan dari daerah adalah orang-orang yang tidak berpendidikan. Bahkan boleh jadi orang-orang besar yang kita kenal saat ini adalah orang perantauan yang berhasil dalam mencoba mengadu nasih di kehidupan di Ibu Kota. Mungkin saja mereka yang berasal dari perantauan akan lebih kuat dalam menghadapi kerasnya kehidupan di Ibu Kota daripada penduduk kota itu sendiri.
Tak hanya dari Minangkabau, perantau bisa berasal dari daerah mana saja kecuali Jakarta, Ibu Kota itu sendiri. Para perantau juga tidak hanya bekerja untuk mencari nafkah, tapi juga ada perantau yang menimba ilmu di Ibu Kota. Perantau yang datang ke Jakarta untuk mencari nafkah mungkin didorong oleh tingginya Upah Minimum Regional (UMR) di Ibu Kota. Perantau yang datang untuk menimba ilmu mungkin didorong oleh lebih terjamin dan majunya pendidikan di Ibu Kota dari pada di daerah perantau tersebut.
Meskipun saat ini Ibu Kota Jakarta menjadi destinasi atau tujuan utama para perantau karena lebih majunya tingkat perekonomian di Ibu Kota dari pada kota-kota lain, tak semua perantau itu berhasil dalam mengadu nasib di Jakarta. Hal tersebut bisa saja terjadi karena beberapa faktor internal. Pertama, mungkin saja para perantau tersebut hanya memikirkan tingginya jaminan hidup di Jakarta. Mereka yang ingin bekerja hanya melihat UMRnya saja tanpa melihat biaya hidup yang harus mereka tanggung selama hidup di Jakarta. Kedua, mungkin saja para perantau tersebut berharap terlalu banyak pada Ibu Kota. Misalnya, mereka berharap mereka bisa cepat kaya bila mereka bekerja di Ibu Kota, padahal seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa biaya hidup di Jakarta tidaklah murah. Ketiga, mereka tidak mempunyai keahlian tertentu atau pendidikan yang dibutuhkan untuk bekerja di Ibu Kota. Mereka hanya memikirkan enaknya hidup dan bekerja di Jakarta tanpa mengorek lebih dalam bagaimana kehidupan sesungguhnya di Ibu Kota. Hal-hal sepele seperti itu yang biasanya membuat mereka tergiur untuk merantau di Ibu Kota di saat mereka tidak mempunyai bekal apapun untuk dibawa ke Ibu Kota.
Mungkin benar anggapan bahwa Ibu Kota hanya untuk orang-orang yang berpendidikan. Jelas saja begitu, Ibu Kota merupakan jantungnya Indonesia. Semua kegiatan pemerintahan dan sebagian besar kegiatan perekonomian terjadi di Ibu Kota sehingga Ibu Kota membutuhkan orang-orang cerdas, ulet dan berpendidikan, tak peduli dari mana mereka berasal. Itulah yang dilupakan oleh para perantau tak berbekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar