Selasa, 13 Mei 2014

Kritik Artikel “Peradaban Kesejahteraan” yang ditulis oleh Elvin G. Masassya

Dalam artikelnya yang berjudul “Peradaban Kesejahteraan”, Elvin G. Masassya menjelaskan mengenai hubungan antara peradaban dengan kesejahteraan. Artikel yang dimuat di Koran Kompas pada hari Minggu tanggal 16 Maret 2014 itu juga memaparkan tentang perbedaan cara meraih dan tujuan hidup agar terjadi peradaban kesejahteraan dalam hidup seseorang.
Menurut Elvin G. Masassya, cara meraih dan tujuan hidup seseorang dapat menentukan orang tersebut ingin mencapai peradaban yang rendah atau tinggi. Dapat kita ambil contoh bahwa rata-rata penduduk di negara berkembang hanya terfokus pada pencapaian kesejahteraan dibidang ekonomi saja. Mereka akan mencari dan terus mencari serta menumpuk harta kekayaan mereka hingga kekayaan mereka itu tidak bisa dinikmati lagi. Dapat dipastikan, mereka juga lupa untuk mencapai kesejahteraan sosial. Berbeda dengan penduduk di negara berkembang, penduduk di negara maju telah memprioritaskan untuk mencapai kesejahteraan sosial terlebih dulu daripada mencapai kesejahteraan ekonomi. Mayoritas penduduk di negara maju tidak mementingkan seberapa banyak harta yang mereka miliki. Bagi mereka, yang terpenting adalah harta yang mereka miliki cukup untuk biaya kehidupannya. Sehingga sangat jelas terlihat perbedaannya antara kebiasaan penduduk di negara berkembang dengan penduduk di negara maju.
Contoh lainnya adalah penduduk di negara berkembang menjadikan media transportasi menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Misalnya saja, orang kampung yang merantau akan dianggap sukses di perantauannya bila ia pulang ke kampung halamannya dengan membawa motor atau bahkan mobil. Karenanya, hampir semuanya penduduk di negara berkembang, contohnya Indonesia, menjadikan media transportasi sebagai gengsi mereka. Makanya, mereka berbondong-bondong mengoleksi kendaraan pribadi, meskipun mereka mencicilnya tanpa sepengetahuan orang lain, walaupun sebenarnya mereka tidak begitu membutuhkan. Ada juga orang tua yang bangga bila anak yang masih dibawah umur sudah bisa mengendarai motor, padahal hal tersebut membahayakan jiwa anak itu sendiri. Karena gengsi mereka, mereka pun akhirnya menggunakan kendaraan pribadi kemanapun mereka pergi, tak peduli seberapa jauh jaraknya. Mereka enggan menggunakan kendaraan umum, apalagi berjalan kaki bila jarak yang akan mereka tempuh relatif dekat. Tak mengherankan bila korupsi terus merajalela di negara berkembang karena mereka akan menghalalkan segala cara demi meraih gengsinya. Padahal, di negara maju, sebagian besar penduduknya lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum, seperti bis, daripada menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil sehingga angka kemacetan di negara maju lebih rendah bila dibandingkan dengan di negara berkembang.
Dari contoh-contoh diatas, dapat dikualifikasikan bahwa rata-rata kesejahteraan yang dicapai oleh penduduk di negara berkembang masih berada pada kategori peradaban yang rendah dimana kesejahteraan dalam bidang ekonomi yang diutamakan. Sedangkan kesejahteraan yang diraih di oleh penduduk di negara maju tergolong peradaban yang lebih tinggi dimana tujuan meraih kesejahteraan ekonomi dibarengi dengan tujuan mencapai kesejahteraan sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar