Sekilas mengenai artikel yang berjudul “Menguatnya Politik Membumi” yang ditulis oleh Maria Hartiningsih adalah bahwa perempuan di dusun di daerah timur Indonesia sana masih dikuasai penuh oleh suami dan ibu mertuanya. Saking dikuasainya, perempuan yang akan melahirkan tidak akan segera dibawa ke puskesmas bila belum mendapat persetujuan suaminya. Selain itu, kuatnya aturan agama dan adat membuat seorang perempuan akan selalu tergantung pada suami dan anggota keluarganya yang lain. Perempuan hanya boleh dibonceng oleh laki-laki muhrim atau anggota keluarganya yang terdekat.
Memang benar begitu seharusnya yang kita lakukan sebagai umat Islam. Perempuan tidak boleh dibonceng oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Tapi bukan berarti perempuan tidak boleh dibonceng oleh perempuan lain yang bukan anggota keluarga terdekatnya. Islam hanya melarang perempuan tidak boleh pergi dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, bukan oleh sesama perempuan. Hal tersebut juga untuk melindungi harkat dan martabat seorang perempuan, agar tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari.
Berbeda dengan yang terjadi di Dusun Babie Daye, Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Perempuan di dusun itu hanya boleh di bonceng oleh laki-laki muhrimnya atau anggota keluarganya yang terdekat. Hal itu akan menyulitkan perempuan bilamana mereka akan melahirkan dan tidak ada laki-laki muhrim ataupun anggota keluarga terdekat mereka di dekat mereka. Dan juga para tetangga tidak bisa menolong mereka. Bila tetangganya laki-laki, jelas tidak mungkin karena aturan bahwa perempuan tidak boleh dibonceng oleh laki-laki selain muhrimnya. Bila tetangganya perempuan juga lebih tidak mungkin lagi karena perempuan disana sudah terbiasa diantar dan tidak pernah diajari cara mengendarai sepeda motor. Oleh sebab itu, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di dusun tersebut sangat tinggi.
Hal itulah yang membuat Rafiqoh tergugah. Ia adalah seorang aktivis Posyandu dan pengajar PAUD yang nyambi berjualan kerupuk, serta pemrakarsa ojek perempuan di desanya. Setelah dua tahun mengaktifkan ojek perempuan, 85 persen perempuan hamil di dusunnya sudah dibawa ke puskesmas. Ia juga membantu mengurus akta kelahiran, menggerakkan kegiatan ekonomi perempuan dan mulain bekerja untuk perbaikan gizi ibu dan anak. Rafiqoh hanya satu dari ribuan perempuan yang menyalakan lilin di kegelapan nasib.
Selain Rafiqoh ada juga komunitas yang membantu masyarakat di pedesaan, seperti Pekka (Perempuan Kepala Rumah Tangga. Komunitas tersebut lebih dipercaya oleh masyarakat karena mereka lebih tanggap daripada pemerintah, dan juga komunitas Pekka tidak memungut bayaran seepeserpun. Pekka mampu membalikkan nasib perempuan dari obyek yang dilemahkan menjadi subyek yang berjuang dan memenangi kehidupan. Komunitas Pekka berhasil menyelesaikan urusan serius perempuandan anak, terutama identitas-identitas hukum, seperti perkawinan tak tercatat, perceraian sewenang-wenang, akta kelahiran, kekerasan dalam rumah tangga, dan menggerakkan ekonomi perempuan. Komunitas Pekka juga membangun pusat rumah aman untuk korban KDRT dan rumah singgah untuk perempuan yang hendak melahirkan supaya lebih mudah dibawa ke pusat layanan kesehatan.
Meskipun komunitas Pekka beroperasi di dusun-dusun, ternyata mereka melek hukum dan memiliki kapasitas untuk mengawasi kegiatan publik. Karena itulah mereka disegani oleh masyarakat. Komunitas Pekka juga menghidupi perjuangan di dunia politik, yakni politik sehari-hari yang membumi.
Saya sangat mendukung dengan apa yang dilakukan oleh komunitas Pekka karena komunitas Pekka membantu para perempuan di pedesaan yang diperlakukan semena-mena dan dianggap lemah oleh kaum laki-laki. Semoga lebih banyak lagi komunitas-komunitas seperti Pekka yang akan membantu para perempuan yang diambil haknya.
Karena kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, saat ini sebagian besar masyarakat di pedesaan sudah sadar politik. Mereka yang dulu dianggap bodoh menjadi kekuatan nyata yang harus dipertimbangkan. Karena pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat yang tinggal di pedesaan adalah orang-orang bodoh, membuat mereka yang tinggal di perkotaan menjadi besar kepala dan menganggap remeh masyarakat desa. Padahal jika ditelusuri lebih jauh lagi, banyak orang-orang besar yang berasal dari desa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar