Rabu, 04 Juni 2014

Kritik Artikel “Mahasiswa Asing di Amerika Serikat” yang ditulis oleh Gaia Khairina

Setelah membaca artikel yang ditulis oleh Gaia Khairina, saya menjadi lebih tahu mengenai peran mahasiswa asing yang menuntut ilmu di Amerika Serikat. Ternyata mahasiswa asing membawa dampak yang cukup positif bagi mahasiswa lokal. Mahasiswa lokal berpendapat bahwa keberadaan mahasiswa asing memberi warna dalam kehidupan mereka. Dengan adanya mahasiswa asing, mereka menjadi lebih terbuka pada berbagai kelompok etnis. Mahasiswa asing juga mempermudah mahasiswa lokal dalam mempelajari budaya yang dibawa oleh mahasiswa asing. Contohnya, saat seorang mahasiswa Amerika yang bernama Goldstein berencana magang di Bangladesh. Ia mempelajari budaya-budaya masyarakat Bangladesh melalui temannya yang berasal dari Bangladesh. Bahkan menurutnya, temannya tersebut memperkenalkan kehidupan masyarakat Bangladesh dengan lebih nyata daripada bila ia membacanya buku panduan wisata.
Namun sayangnya, pendapat tersebut hanyalah pendapat mahasiswa lokal saja. Menurut Gaia, masih ada sebagian mahasiswa asing yang hanya bergaul dengan mahasiswa yang satu bahasa dengannya. Misalnya, mahasiswa yang berasal dari Indonesia hanya mau dan ingin bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Hal tersebut terjadi karena ketidakfasihan mahasiswa asing dalam berbahasa Inggris. Padahal sebenarnya mahasiswa lokal tidak mempunyai masalah apabila mahasiswa asing belum lancar berbahasa Inggris. Menurut mereka, justru seharusnya mahasiswa asing lebih banyak bergaul dengan mahasiswa lokal agar memperlancar bahasa Inggris mereka.
Tak hanya kendala bahasa, mahasiswa asing di Amerika Serikat juga tidak percaya diri. Menurut Gaia, hal tersebut terjadi karena pada umumnya mereka merasa kesepian dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana, yang berbeda dengan kehidupan di negara asal masing-masing.
Gaia Khairina, seorang mahasiswa S-1 jurusan Environmental Science di Clark University, mempunyai solusi untuk permasalahan-permasalahan yang dialami oleh mahasiswa asing di Amerika Serikat. Mereka hanya perlu mengikuti kegiatan-kegiatan kampus di luar kelas agar mereka tidak kesepian sekaligus untuk memperlancar bahasa Inggris mereka. Mahasiswa asing tidak seharusnya merasa rendah diri karena hal tersebut hanya akan memperburuk citra mereka di hadapan mahasiswa lokal sebagai mahasiswa asing.

Kritik Artikel “Agama dan Pemilu” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat

Saya sependapat dengan Komaruddin Hidayat yang mengatakan bahwa pengaruh keagamaan, terutama agama mayoritas yaitu agama Islam, masih sangat kuat di setiap pemilihan umum di Indonesia. Masyarakat masih berpendapat bahwa pemimpin kita haruslah orang yang beragama Islam. Mereka lupa bahwa negara Indonesia bukanlah negara agama. Dalam syarat-syarat menjadi Presiden dan Wakil Presiden pun tidak mengharuskan capres dan cawapresnya adalah orang yang beragama Islam.
Meskipun benar bahwa kepemimpinan yang baik haruslah dengan pemimpin yang baik juga. Dalam konsep Islam, kepemimpinan yang amanah akan terwujud bila pemimpinnya juga amanah. Maksudnya adalah untuk mewujudkan negara yang sesuai dengan konsep Islami, harus diimbangi dengan pemimpin yang berasal dari agama Islam pula. Tapi apakah itu sesuai dengan negara Indonesia yang berpenduduk dengan berbagai agama? Apakah itu adil bagi mereka yang berasal dari agama minoritas? Sempat timbul pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik kita mempunyai pemimpin yang bukan beragama Islam tapi memimpin dengan bijak daripada pemimpin yang beragama Islam tapi pelaku korupsi. Pendapat tersebut disanggah oleh seorang mu’alaf yang sekarang aktif berdakwah, yang dikenal dengan nama Ustadz Felix Shiaw. Beliau berpendapat bahwa tidak ada hal yang lebih baik dalam hal keburukan. Menurut beliau pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik memiliki pemimpin yang berbeda agama dengan kepemimpinan yang bijak tidaklah benar. Baiknya adalah pemimpinan yang seagama dengan sistem kepemimpinan yang amanah.
Sebenarnya saya juga sependapat denganpendapat Ustadz Felix. Oleh karenanya, kita membutuhkan calon-calon pemimpin yang benar-benar taat pada agama. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak orang yang benar-benar beragama Islam yang mencalonkan diri sebagai pemimpin yang benar-benar amanah? Memang pasti ada, tapi mereka pasti hanya segelintir orang dari sekian banyak calon. Dan karena mereka benar-benar orang yang beragama, mereka juga pasti akan melakukan kampanye sesuai dengan syariat agama. Dengan kata lain, mereka pasti tidak akan menghambur-hamburkan berjuta-juta uang hanya untuk kampanye sehingga membuat mereka tidak terlihat oleh masyarakat karena kurangnya aktivitas kampanye. Bahkan mungkin hanya orang–orang terdekatnya saja yang tahu bahwa ada pemimpin amanah yang sedang memperjuangkan niatnya. Kepopuleran mereka tertutupi oleh calon-calon lain yang arogan dan serakah pada kekuasaan hingga akhirnya calon pemimpin yang amanah tadi tersingkir dengan sendirinya.
Bukan hal aneh lagi bagi kita bila ada orang yang benar-benar baik tersingkir atau kalah oleh orang-orang jahat. Bahkan boleh jadi orang-orang baik yang tak bersalah menjadi kambing hitam atas kesalahan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Menurut saya, tak ada salahnya bila mereka yang berbeda agama menjadi pemimpin di Indonesia selama mereka menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan konsep Islami. Selama mereka tetap menghormati keberadaan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia. Selama mereka mampu menciptakan kedamaian serta kerukunan antarumat beragama serta tidak menganaktirikan agama Islam.

Selasa, 13 Mei 2014

Kritik Artikel “Rantau Intelektual Berawal dari Surau” yang ditulis oleh Dodi Wisnu Pribadi

Berdasarkan artikel “Rantau Intelektual Berawal dari Surau” yang ditulis oleh Dodi Wisnu Pribadi, banyak intelektual yang berasal dari Minangkabau. Disebutkan bahwa para intelektual perantauan tersebut telah pintar berbicara dan memimpin sejak mereka mengikuti setiap pengajian di surau-surau di masa kanak-kanak. Ternyata kebiasaan mereka itu merupakan kebiasaan adat dasar yang diwariskan kepada generasi muda Minang selanjutnya.
Menurut Muchtar Naim dalam bukunya yang berjudul “Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau”, kehadiran lembaga pendidikan, seperti Kweek School yang berdiri pada 1 April 1856 si Bukittinggi, Sumbar, sangat menentukan mulai dikenalnya pendidikan modern di Bukittinggi. Seperti yang kita tahu, Bukittinggi merupakan kampung halaman Wakil Presiden pertama kita, Mohammad Hatta.
Tokoh-tokoh terkenal seperti Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, Hamka, Sutan Sjahrir, Rasuna Said dan Tan Malaka, serta wartawan Karni Ilyas adalah orang-orang yang berasal dari Minangkabau yang kini menyebar dan dikenal secara nasional karena keintelektualannya serta sikap dan cara pandang hingga aktivitas mereka di tanah rantau di Ibu Kota. Mereka adalah orang-orang Minangkabau yang sukses dibidangnya masing-masing di ranah perantauan dan bukan di ranah Minang sendiri.
Semakin jelas sekarang bahwa tak semua orang-orang perantauan dari daerah adalah orang-orang yang tidak berpendidikan. Bahkan boleh jadi orang-orang besar yang kita kenal saat ini adalah orang perantauan yang berhasil dalam mencoba mengadu nasih di kehidupan di Ibu Kota. Mungkin saja mereka yang berasal dari perantauan akan lebih kuat dalam menghadapi kerasnya kehidupan di Ibu Kota daripada penduduk kota itu sendiri.
Tak hanya dari Minangkabau, perantau bisa berasal dari daerah mana saja kecuali Jakarta, Ibu Kota itu sendiri. Para perantau juga tidak hanya bekerja untuk mencari nafkah, tapi juga ada perantau yang menimba ilmu di Ibu Kota. Perantau yang datang ke Jakarta untuk mencari nafkah mungkin didorong oleh tingginya Upah Minimum Regional (UMR) di Ibu Kota. Perantau yang datang untuk menimba ilmu mungkin didorong oleh lebih terjamin dan majunya pendidikan di Ibu Kota dari pada di daerah perantau tersebut.
Meskipun saat ini Ibu Kota Jakarta menjadi destinasi atau tujuan utama para perantau karena lebih majunya tingkat perekonomian di Ibu Kota dari pada kota-kota lain, tak semua perantau itu berhasil dalam mengadu nasib di Jakarta. Hal tersebut bisa saja terjadi karena beberapa faktor internal. Pertama, mungkin saja para perantau tersebut hanya memikirkan tingginya jaminan hidup di Jakarta. Mereka yang ingin bekerja hanya melihat UMRnya saja tanpa melihat biaya hidup yang harus mereka tanggung selama hidup di Jakarta. Kedua, mungkin saja para perantau tersebut berharap terlalu banyak pada Ibu Kota. Misalnya, mereka berharap mereka bisa cepat kaya bila mereka bekerja di Ibu Kota, padahal seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa biaya hidup di Jakarta tidaklah murah. Ketiga, mereka tidak mempunyai keahlian tertentu atau pendidikan yang dibutuhkan untuk bekerja di Ibu Kota. Mereka hanya memikirkan enaknya hidup dan bekerja di Jakarta tanpa mengorek lebih dalam bagaimana kehidupan sesungguhnya di Ibu Kota. Hal-hal sepele seperti itu yang biasanya membuat mereka tergiur untuk merantau di Ibu Kota di saat mereka tidak mempunyai bekal apapun untuk dibawa ke Ibu Kota.
Mungkin benar anggapan bahwa Ibu Kota hanya untuk orang-orang yang berpendidikan. Jelas saja begitu, Ibu Kota merupakan jantungnya Indonesia. Semua kegiatan pemerintahan dan sebagian besar kegiatan perekonomian terjadi di Ibu Kota sehingga Ibu Kota membutuhkan orang-orang cerdas, ulet dan berpendidikan, tak peduli dari mana mereka berasal. Itulah yang dilupakan oleh para perantau tak berbekal.

Kritik Artikel “Menguatnya Politik Membumi” yang ditulis oleh Maria Hartiningsih

Sekilas mengenai artikel yang berjudul “Menguatnya Politik Membumi” yang ditulis oleh Maria Hartiningsih adalah bahwa perempuan di dusun di daerah timur Indonesia sana masih dikuasai penuh oleh suami dan ibu mertuanya. Saking dikuasainya, perempuan yang akan melahirkan tidak akan segera dibawa ke puskesmas bila belum mendapat persetujuan suaminya. Selain itu, kuatnya aturan agama dan adat membuat seorang perempuan akan selalu tergantung pada suami dan anggota keluarganya yang lain. Perempuan hanya boleh dibonceng oleh laki-laki muhrim atau anggota keluarganya yang terdekat.
Memang benar begitu seharusnya yang kita lakukan sebagai umat Islam. Perempuan tidak boleh dibonceng oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Tapi bukan berarti perempuan tidak boleh dibonceng oleh perempuan lain yang bukan anggota keluarga terdekatnya. Islam hanya melarang perempuan tidak boleh pergi dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, bukan oleh sesama perempuan. Hal tersebut juga untuk melindungi harkat dan martabat seorang perempuan, agar tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari.
Berbeda dengan yang terjadi di Dusun Babie Daye, Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Perempuan di dusun itu hanya boleh di bonceng oleh laki-laki muhrimnya atau anggota keluarganya yang terdekat. Hal itu akan menyulitkan perempuan bilamana mereka akan melahirkan dan tidak ada laki-laki muhrim ataupun anggota keluarga terdekat mereka di dekat mereka. Dan juga para tetangga tidak bisa menolong mereka. Bila tetangganya laki-laki, jelas tidak mungkin karena aturan bahwa perempuan tidak boleh dibonceng oleh laki-laki selain muhrimnya. Bila tetangganya perempuan juga lebih tidak mungkin lagi karena perempuan disana sudah terbiasa diantar dan tidak pernah diajari cara mengendarai sepeda motor. Oleh sebab itu, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di dusun tersebut sangat tinggi.
Hal itulah yang membuat Rafiqoh tergugah. Ia adalah seorang aktivis Posyandu dan pengajar PAUD yang nyambi berjualan kerupuk, serta pemrakarsa ojek perempuan di desanya. Setelah dua tahun mengaktifkan ojek perempuan, 85 persen perempuan hamil di dusunnya sudah dibawa ke puskesmas. Ia juga membantu mengurus akta kelahiran, menggerakkan kegiatan ekonomi perempuan dan mulain bekerja untuk perbaikan gizi ibu dan anak. Rafiqoh hanya satu dari ribuan perempuan yang menyalakan lilin di kegelapan nasib.
Selain Rafiqoh ada juga komunitas yang membantu masyarakat di pedesaan, seperti Pekka (Perempuan Kepala Rumah Tangga. Komunitas tersebut lebih dipercaya oleh masyarakat karena mereka lebih tanggap daripada pemerintah, dan juga komunitas Pekka tidak memungut bayaran seepeserpun. Pekka mampu membalikkan nasib perempuan dari obyek yang dilemahkan menjadi subyek yang berjuang dan memenangi kehidupan. Komunitas Pekka berhasil menyelesaikan urusan serius perempuandan anak, terutama identitas-identitas hukum, seperti perkawinan tak tercatat, perceraian sewenang-wenang, akta kelahiran, kekerasan dalam rumah tangga, dan menggerakkan ekonomi perempuan. Komunitas Pekka juga membangun pusat rumah aman untuk korban KDRT dan rumah singgah untuk perempuan yang hendak melahirkan supaya lebih mudah dibawa ke pusat layanan kesehatan.
Meskipun komunitas Pekka beroperasi di dusun-dusun, ternyata mereka melek hukum dan memiliki kapasitas untuk mengawasi kegiatan publik. Karena itulah mereka disegani oleh masyarakat. Komunitas Pekka juga menghidupi perjuangan di dunia politik, yakni politik sehari-hari yang membumi.
Saya sangat mendukung dengan apa yang dilakukan oleh komunitas Pekka karena komunitas Pekka membantu para perempuan di pedesaan yang diperlakukan semena-mena dan dianggap lemah oleh kaum laki-laki. Semoga lebih banyak lagi komunitas-komunitas seperti Pekka yang akan membantu para perempuan yang diambil haknya.
Karena kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, saat ini sebagian besar masyarakat di pedesaan sudah sadar politik. Mereka yang dulu dianggap bodoh menjadi kekuatan nyata yang harus dipertimbangkan. Karena pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat yang tinggal di pedesaan adalah orang-orang bodoh, membuat mereka yang tinggal di perkotaan menjadi besar kepala dan menganggap remeh masyarakat desa. Padahal jika ditelusuri lebih jauh lagi, banyak orang-orang besar yang berasal dari desa.

Kritik Artikel “Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar” yang ditulis oleh Rhenald Kasali

Menurut Rhenald Kasali dalam artikelnya yang berjudul “Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar”, beliau berpendapat bahwa setiap bangsa mempunyai pilihan, yaitu melahirkan atlet bermedali emas atau perenang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah. Maksud dari perumpamaan beliau diatas adalah setiap pemerintahan berhak menentukan bagaimana sistem pendidikan akan diterapkan di negaranya. Apakah pendidikan yang akan melahirkan perenang yang tak pernah menyentuh air (pendidikan yang hanya terpusat pada teori tanpa ada praktek) atau pendidikan yang melahirkan atlet bermedali emas (pendidikan yang tidak hanya terpusat pada teori tapi juga pada praktek di lapangan).
Sistem pendidikan yang diterapkan oleh suatu negara akan menentukan masa depan generasi selanjutnya. Negara yang menerapkan pendidikan yang terpusat pada praktek dan teori akan mempermudah generasi-generasi mudanya dalam menghadapi realitas kehidupan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah karena mereka telah dibekali ilmu terapan yang lebih berguna di masyarakat. Sebaliknya, negara yang hanya menerapkan ilmu dasar atau teorinya saja tanpa menerapkan prakteknya di lapangan akan mempersulit generasi-generasi muda dalam menghadapi kenyataan hidup. Mereka juga akan sulit membaur dengan masyarakat karena mereka tidak pernah dibekali pengalaman dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di sekolah.
Sayangnya, pendidikan yang masih terpaku pada ilmu dasar atau teori masih diterapkan di negara kita, Indonesia. Para siswa hanya dibekali teori-teori tanpa melakukan prakteknya. Contohnya, di Fakultas Sastra jurusan Sastra Inggris di Universitas Gunadarma, mahasiswa mendapatmata kuliah Pariwisata, tetapi mahasiswa hanya diberi teori tentang bagaimana menjadi seorang pemandu wisata yang baik tanpa mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkannya secara langsung. Hal ini sangat disayangkan baik oleh dosen yang mengampu mata kuliah tersebut maupun oleh mahasiswanya karena menurut mereka akan sangat baik bila mahasiswa jugga diberi kesempatan untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Selain itu, tugas-tugas mahasiswa hanya berkisar pada pembuatan makalah atau mengerjakan soal pilihan ganda. Sangat jarang sekali mereka diberi tugas berupa memberikan pendapat mengenai suatu peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Padahal masa kuliah adalah masa yang paling penting bagi setiap individu untuk dapat memecahkan suatu masalah dengan memberikan pendapat mereka.
Selain karena pemerintah yang masih menerapkan ilmu dasar yang berupa teori, hal ini juga didukung oleh tenaga pengajar yang selalu memberikan soal-soal berupa soal pilihan ganda atau tugas yang berupa penyusunan makalah. Sangat jarang sekali ada guru atau dosen yang mengajak mahasiswanya untuk berdiskusi atau berdebat secara ilmiah atau memberikan pendapat mereka mengenai suatu peristiwa. Sebagian besar guru atau dosen hanya memberikan teori-teori yang sudah jelas tertulis dalam buku mereka. Guru atau dosen hanya mengulang setiap kata-kata yang tertulis dalam buku. Dan pada saat ujian, guru atau dosen memberikan soal berupa pilihan ganda dimana siswa atau mahasiswanya diharuskan untuk menjawab antara yang benar atau salah. Meskipun metode pengajaran yang seperti itu jelas-jelas tidak menambah pengetahuan mahasiswa, toh pada kenyataannya masih digunakan oleh sebagian besar tenaga pengajar yang ada. Padahal salah satu metode pengajaran yang baik adalah dengan menerapkan ilmu yang tidak mengharuskan mahasiswanya untuk menghafal tapi mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan dan perencanaan eksekusi). Pendidikan yang didominasi oleh budaya ilmu dasar yang terpusat pada serba kertas dan teori dan mengabaikan penerapannya yang membuat para sarjana Indonesia tidak siap pakai.
Semoga saja pemerintah kita segera menyadari kekurangan sistem pendidikan di negara kita dan segera mengubah sistem pendidikan dari yang hanya berkutat pada buku dan kertas menjadi sistem pendidikan yang tidak lagi mengabaikan penerapan dari apa yang telah dipelajari oleh siswa dan mahasiswanya agar mereka menjadi generasi muda yang siap pakai di masyarakat.

Kritik Artikel “Awas, Politik Genderuwo” yang ditulis oleh Sindhunata

Politik genderuwo yang dimaksud dalam artikel yang ditulis oleh Sindhunata tersebut adalah politik dimana para calon legislatifnya hanya akan nggege mangsa dikarenakan miskinnya otoritas yang dibutuhkan oleh demokrasi. Para calon legislatif yang seperti itu hanya akan menjadi “genderuwo politik” yang menggelisahkan dan menakutkan masyarakat. Politik yang demikian akan menyebabkan stres sosial, stres terjelek dari segala stres.
Menurut artikel “Awas, Politik Genderuwo” yang dimuat dalam Koran Kompas pada hari Selasa tanggal 18 Maret 2014, pada zaman sekarang banyak politikus-politikus yang tidak mempunyai otoritas-otoritas dalam lingkup das Politische. Mereka, terlebih lagi para anggota DPR, hanya pintar bermain dalam ranah die Politik, hingga mereka menjalankan tugasnya dengan dangkal, mengobral janji kosong, berbohong, dan membuat politik menjadi politik uang. Die Politik yang dimaksud disini adalah politik praktis sehari-hari, sedangkan das Politische adalah politik yang sampai pada dasar-dasarnya atau bisa disebut juga dengan fundamen yang memungkinkan politik bisa berjalan.
Otoritas politik yang seharusnya dimiliki oleh para politikus kita adalah otoritas politik dalam lingkup das Politische. Para politikus seharusnya tidak hanya berpolitik praktis atau die Politik tapi juga berpolitik yang sampai ke dasar-dasarnya atau das Politische agar politik demokrasi di Indonesia dapat dihidupkan dan dijalankan.
Otoritas sangat penting bagi para calon legislatif (caleg) dan politikus karena dengan otoritas tersebut masyarakat dapat menilai mana caleg yang benar dan mana caleg yang hanya modal nekat. Caleg yang memiliki otoritas politik akan mampu berpikir dalam kedalaman dan keluasan, bukan hanya jangka pendek, melainkan juga jangka panjang. Caleg yang demikian juga pasti akan mampu mengoperasionalkan semuanya dalam kebijaksanaan dan langkah konkret.
Saya sependapat dengan Sindhunata mengenai caleg yang perlu nunut otoritas dari tokoh-tokoh terkenal, misalnya Megawati, SBY, Hamengku Buwono IX, Bung Karno, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh terkenal lain yang digunakan sebagai ikon-ikon para caleg. Saya juga pernah menjumpai baliho-baliho caleg yang seperti itu. Ada caleg yang menampilkan foto tokoh terkenal Hatta Rajasa karena caleg tersebut berasal dari partai PAN. Ada pula yang menampilkan foto SBY, selain foto dirinya, karena caleg tersebut berasal dari partai Demokrat. Bahkan sayajuga pernah menjumpai baliho caleg yang juga ikut menampilkan nama salah satu orang tuanya seakan-akan orang tuanya adalah orang terkenal. Caleg tersebut mencantumkan “anak dari (nama salah satu orang tua)”. Padahal saya sendiri yang membacanya tidak mengenal baik caleg maupun orang tua caleg tersebut.
Memang benar hal demikian menunjukan bahwa caleg-caleg yang mencantumkan nama atau foto tokoh-tokoh terkenal setelah nama atau foto mereka sendiri tak yakin dengan otoritas mereka sendiri sehingga mereka harus dan perlu mendompleng tokoh-tokoh terkenal atau bahkan orang tuanya. Maka dari itu, muncullah julukan-julukan caleg bonek (modal nekat), caleg waton maju (caleg asal maju), caleg nyuwun pangestu (bermodal mohon doa restu), caleg ojo lai jepe methe coblos sedulur dhewe (pedomannya jangan lupa cobloslah teman sendiri), dan masih banyak lagi julukan-julukan yang lain.
Mungkin itu salah satu sebabnya banyak caleg-caleg gagal yang sakit jiwa setelah pemilihan. Mereka telah menghabiskan banyak uang, mungkin sampai menjual tanah atau harta kekayaan yang lain, hanya untuk menjadi anggota legislatif. Mereka lupa bahwa sebenarnya bukan hanya modal ekonomi saja yang dibutuhkan. Mereka juga harus mempersiapkan diri dan mental serta mereka juga harus mempunyai cukup pengetahuan tentang bagaimana caranya memimpin suatu daerah, bukan hanya sekedar urusan uang dan uang.

Kritik Artikel “Peradaban Kesejahteraan” yang ditulis oleh Elvin G. Masassya

Dalam artikelnya yang berjudul “Peradaban Kesejahteraan”, Elvin G. Masassya menjelaskan mengenai hubungan antara peradaban dengan kesejahteraan. Artikel yang dimuat di Koran Kompas pada hari Minggu tanggal 16 Maret 2014 itu juga memaparkan tentang perbedaan cara meraih dan tujuan hidup agar terjadi peradaban kesejahteraan dalam hidup seseorang.
Menurut Elvin G. Masassya, cara meraih dan tujuan hidup seseorang dapat menentukan orang tersebut ingin mencapai peradaban yang rendah atau tinggi. Dapat kita ambil contoh bahwa rata-rata penduduk di negara berkembang hanya terfokus pada pencapaian kesejahteraan dibidang ekonomi saja. Mereka akan mencari dan terus mencari serta menumpuk harta kekayaan mereka hingga kekayaan mereka itu tidak bisa dinikmati lagi. Dapat dipastikan, mereka juga lupa untuk mencapai kesejahteraan sosial. Berbeda dengan penduduk di negara berkembang, penduduk di negara maju telah memprioritaskan untuk mencapai kesejahteraan sosial terlebih dulu daripada mencapai kesejahteraan ekonomi. Mayoritas penduduk di negara maju tidak mementingkan seberapa banyak harta yang mereka miliki. Bagi mereka, yang terpenting adalah harta yang mereka miliki cukup untuk biaya kehidupannya. Sehingga sangat jelas terlihat perbedaannya antara kebiasaan penduduk di negara berkembang dengan penduduk di negara maju.
Contoh lainnya adalah penduduk di negara berkembang menjadikan media transportasi menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Misalnya saja, orang kampung yang merantau akan dianggap sukses di perantauannya bila ia pulang ke kampung halamannya dengan membawa motor atau bahkan mobil. Karenanya, hampir semuanya penduduk di negara berkembang, contohnya Indonesia, menjadikan media transportasi sebagai gengsi mereka. Makanya, mereka berbondong-bondong mengoleksi kendaraan pribadi, meskipun mereka mencicilnya tanpa sepengetahuan orang lain, walaupun sebenarnya mereka tidak begitu membutuhkan. Ada juga orang tua yang bangga bila anak yang masih dibawah umur sudah bisa mengendarai motor, padahal hal tersebut membahayakan jiwa anak itu sendiri. Karena gengsi mereka, mereka pun akhirnya menggunakan kendaraan pribadi kemanapun mereka pergi, tak peduli seberapa jauh jaraknya. Mereka enggan menggunakan kendaraan umum, apalagi berjalan kaki bila jarak yang akan mereka tempuh relatif dekat. Tak mengherankan bila korupsi terus merajalela di negara berkembang karena mereka akan menghalalkan segala cara demi meraih gengsinya. Padahal, di negara maju, sebagian besar penduduknya lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum, seperti bis, daripada menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil sehingga angka kemacetan di negara maju lebih rendah bila dibandingkan dengan di negara berkembang.
Dari contoh-contoh diatas, dapat dikualifikasikan bahwa rata-rata kesejahteraan yang dicapai oleh penduduk di negara berkembang masih berada pada kategori peradaban yang rendah dimana kesejahteraan dalam bidang ekonomi yang diutamakan. Sedangkan kesejahteraan yang diraih di oleh penduduk di negara maju tergolong peradaban yang lebih tinggi dimana tujuan meraih kesejahteraan ekonomi dibarengi dengan tujuan mencapai kesejahteraan sosial.

Kritik Artikel “Indonesia, Antara Mayoritas dan Minoritas” yang ditulis oleh Ali Mustafa Yaqub

Ali Mustafa Yaqub adalah seorang Imam Besar Masjid Istiqlal dan seorang Advisor Darul Uloom, New York. Berdasarkan artikel yang beliau tulis di Koran Kompas pada tanggal 14 Maret 2014, beliau telah menerima kunjungan 15 orang wartawan yang tergabung dalam East and West Center pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2014. Para wartawan tersebut mengunjungi sang Imam Besar dalam rangka berdialog dengan beliau mengenai masalah Islam dan demokrasi. Dalam dialog yang berlangsung hampir dua jam itu, ada pertanyaan yang menarik yang dilontarkan oleh wartawan dari Myanmar dan wartawan dari India. Mereka bertanya apa yang menyebabkan konflik antarumat beragama tidak terjadi di Indonesia padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam? Kepada mereka, sang Imam Besar menjelaskan bahwa Islam memiliki prinsip dalam menjaga kerukunan antarumat beragama sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an yaitu: “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Prinsip itu berarti bahwa kelompok non-Muslim punya hak untuk menjalankan ajaran agamanya, sementara kelompok Muslim tak boleh mengganggu mereka. Begitu pula dengan kelompok Muslim. Mereka juga memiliki hak untuk menjalankan ajaran agamanya, sementara kelompok non-Muslim tak boleh mengganggu.
Dari uraian singkat tentang artikel tersebut, dapat kita ketahui betapa hebatnya penduduk Indonesia. Mereka tetap menghormati warga yang beragama berbeda sementara terjadi konflik antarumat beragama di negara lain. Seperti yang telah diketahui bahwa mayoritas penduduk di Indonesia adalah beragama Islam dan penduduk yang beragama selain Islam sebagai minoritasnya. Meski begitu, sangat jarang ditemui adanya konflik antarwarga karena masalah agama. Mereka tetap hidup rukun meski memanggil nama Tuhan dengan cara yang berbeda. Itulah mengapa muncul pertanyaan tentang tidak terjadinya konflik antarumat beragama di Indonesia. Boleh jadi para wartawan yang bertanya demikian karena mereka membandingkan kehidupan beragama di Indonesia dengan kehidupan beragama di negara mereka masing-masing, yaitu Myanmar dan India.
Meskipun banyak berita atau hal-hal buruk yang sering terjadi di Indonesia, setidaknya ada hal positif yang dapat kita banggakan sebagai warga negara Indonesia, yaitu terjalinnya kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Meski terdengar sepele, berapa banyak negara yang warga negaranya saling hidup rukun meskipun memiliki agama yang berbeda?

Kritik Artikel “Klenik dan Politik” yang Ditulis oleh Jacob Sumardjo

“Setiap menjelang pemilihan kepala pemerintahan, bisnis klenik atau perdukunan dan ziarah kuburan keramat meningkat tajam.”

Begitulah yang tertulis dalam artikel yang berjudul “Klenik dan Politik” yang ditulis oleh Jacob Sumardjo yang dimuat di koran Kompas pada hari Kamis, 13 Maret 2014. Menurut artikel yang beliau tulis, masih ada beberapa politikus yang masih mempercayai dukun atau orang sakti di zaman yang serba modern ini. Kebanyakan dari mereka mendatangi dukun atau orang yang memiliki kesaktian atau bahkan ziarah ke keburuan keramat pada saat mereka akan maju menjadi pemimpin suatu daerah. Tak mengherankan bila praktek perdukunan masih marak terjadi meskipun banyak pihak menentang adanya praktek perdukunan tersebut.
Mereka yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat dalam rangka meminta sesuatu darinya bisa dibilang mereka adalah orang-orang yang tidak percaya pada kemampuan dirinya. Bisa jadi mereka juga meragukan akan kekuasaan sang Ilahi atau Tuhan Yang Maha Esa. Padahal tak jarang dari mereka yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat adalah orang-orang yang mengaku beragama dan bahkan berpendidikan tinggi. Tapi mungkin hanya dengan beragama dan berpendidikan tinggi tidak bisa membuat mereka untuk tidak mempercayai dukun atau orang sakti atau kuburan keramat.
Awalnya saya tidak percaya bahwa calon pemimpin yang notabene adalah orang yang berpendidikan bisa mendatangi dan mempercayai dukun atau orang sakti. Saya berpikir bahwa tidak mungkin di zaman yang serba modern ini masih ada orang berpendidikan yang mempercayai hal semacam itu. Tapi rupa-rupanya memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Menurut saya, klenik, perdukunan atau hal lainnya yang sejenis adalah produk lama atau jadul atau kuno yang sudah akan ditinggalkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi atau bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri.
Nyatanya praktek perdukunan memang sudah marak dilakukan dari zaman dahulu. Berbeda dengan sekarang, pada waktu lalu, mendatangi dukun atau orang sakti hanya dilakukan oleh orang-orang desa atau kampung yang miskin dan ingin cepat kaya. Tapi sepertinya pada saat sekarang ini, mendatangi dukun sudah sering dilakukan oleh orang-orang intelek dan mengaku beragama hanya untuk mendapatkan kekuasaan di dunia. Sampai saat ini saya masih belum mengetahui alasan pasti mengapa ada orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama tapi mendatangi para dukun atau orang sakti atau kuburan keramat. Padahal jelas tertulis dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari istri-istri Rasulullah SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda yang artinya: “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun dan bertanya sesuatu maka dia tidak akan diterima sholatnya selama empat puluh hari.” Lalu, bagaimana mungkin mereka yang mengaku beragama bisa mendatangi dukun atau orang sakti padahal telah tertulis hadist yang berbunyi seperti demikian itu.
Selama masih ada orang yang mendatangi dukun atau orang sakti atau kuburan keramat, selama itu juga praktek perdukunan tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Perubahan tidak bisa dicapai bila hanya satu pihak yang melakukan, tapi dari kedua belah pihak.

Kritik Artikel “Dasar Bule” yang Ditulis oleh Jean Couteau

Dalam tulisannya di kolom PERSONA pada koran KOMPAS, Minggu, 16 Maret 2014, Jean Couteau menyakatan di awal kalimatnya bahwa terkadang sulit untuk tidak mempunyai prasangka etnis atau rasial. Saya sependapat dengan pernyataan beliau mengenai fakta tersebut. Memang sangat sulit untuk tidak mempunyai prasangka mengenai etnis atau ras seseorang. Bahkan terkadang ada beberapa orang yang tak segan-segan menanyakan asal seseorang untuk menentukan rasnya, misalnya dengan melontarkan pertanyaan “Kamu berasal dari mana?” atau “Kamu orang mana sih?” Secara tidak langsung pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita untuk berprasangka mengenai etnis atau rasialnya. Sebagai contoh, apabila ada orang yang berperilaku lemah lembut dan bertutur kata dengan halus, orang lain akan menggambarkan orang yang berperilaku lemah lembut dan bertutur kata dengan halus itu sebagai orang Jawa. Hal itu disebabkan karena sebagian besar orang berpendapat bahwa orang yang memiliki etnis atau ras Jawa adalah orang yang lemah lembut serta bertutur kata halus. Tak hanya tergantung pada perilaku orang yang disangkakan etnis atau rasnya, kita juga akan berprasangka mengenai etnis atau ras seseorang melalui fisiknya. Seumpama ada orang yang bermata sipit dan berkulit putih, kita akan secara otomatis mengatakan mereka sebagai orang Cina atau Chinese.
Pertanyaannya adalah dari mana kita tahu bahwa orang yang memiliki ras atau etnis Jawa begini dan orang yang memiliki ras atau etnis Padang begitu? Kita bisa mengetahui ciri-ciri orang Jawa atau Padang atau Batak seperti apa adalah dengan mengamati atau bertanya kepada orang yang lebih tua atau yang lebih berpengalaman. Kita bisa mengamati orang-orang terdekat kita yang memiliki etnis yang sama. Jadi, ketika kita menemui perilaku-perilaku atau sifat-sifat yang serupa dari orang yang beretnis Jawa 1 dan orang yang beretnis Jawa 2, secara sadar atau tidak sadar kita akan menarik kesimpulan dengan, paling tidak, kalimat seperti ini: “Oh, orang Jawa begitu toh.” Atau bisa juga dengan mengamati kebiasaan-kebiasaan atau sifat-sifat orang yang beretnis berbeda. Misalnya, kita mengamati orang yang beretnis Padang dan Sunda. Dengan mengamati kebiasaan mereka, paling tidak kita akan tahu perbedaan orang yang beretnis Padang dan Sunda.
Kesimpulannya adalah perilaku-perilaku, tutur kata atau kebiasaan-kebiasaan yang kita tunjukkan pada orang lain dapat membuat orang lain berprasangka mengenai etnis atau ras kita.